Kyai Haji Abdul Hamid adalah salah seorang ulama besar  Indonesia di paruh kedua abad 20 ini. Dalam jajaran ulama Indonesia nama beliau memang tidak menonjol, karena secara formal beliau tidak menduduki kepengurusan pada organisasi Islam yang ada ataupun jabatan birokrasi yang sering menjadi sorotan media massa. Sebagai seorang pemimpin spiritual, beliau banyak berada di belakang layar, tetapi menjadi tumpuan harapan dari tokoh-tokoh formal tingkat lokal, regional, maupun nasional, baik dari kalangan birokrat, tokoh organisasi maupun kalangan ulama sendiri. Nasihat-nasihat beliaulah yang oaling banyak diminta orang disamping doa restunya.

         Kyai Hamid bin Abdullah memang bertempat tinggal di Pasuruan (Jawa Timur), tetapi pengaruhnya bukan sekadar Pasuruan ataupun regional Jawa Timur, tetapi bisa dikatakan nasional. Banyak sekali keputusan berskala nasional dari organisasi Islam terbesar di Indonesia semacam Nahdlatul Ulama yang sebelumnya dikonsultasikan kepada beliau. Sebagai ulama ruhani (spiritual) Kyai Abdul Hamid di kalangan santri dikenal sebagai seorang Ulama Ma’rifat, bahkan sebagai Waliyullah (kekasih Allah).

         Abdul Hamid dilahirkan tahun 1333 H (1915 M) di Sumber Girang, Lasem, Rembang (Jawa Tengah), dengan nama asli Abdul Mukti. Putera ketiga dari sebelas saudara kandung hasil perkawinan KH. Abdulllah bin Umar dengan Hajah Roikhanah binti KH. Muhammad Siddiq. Dari kesebelas saudara kandungnya hanya 5 orang yang hidup sampai berkeluarga, sedangkan 6 di antaranya meninggal pada masa kecil, termasuk kakak sulungnya. Di antara mereka adalah Asiyah, Zaini Dahlan, Abdul Mukti (setelah ibdah haji berganti nama KH. Abdul Hamid), Abdurrahim dan Halimah.

         Pada masa kecilnya Abdul Mukti, yang masih keturunan Sultan Hadi Wijaya (Joko Tingkir) Pajang ini, mendapatkan pendidikan agama pertama kali dari ayahnya di Pesantren Sumber Girang Lasem, yang didirikan KH. Muhammad Siddiq sebelum pindah ke Jember (Jawa Timur). Selanjutnya beliau diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, KH. Muhammad Siddiq sekaligus mengaji kepada ulama kharismatik ini di Pesantren Talangsari Jember. Setelah beberapa tahun diasuh dan mengaji kepada kakeknya, Abdul Mukti kembali ke Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Kasingan, Rembang, di bawah asuhan KH. Kholil (mertua KH. Bisri Mustofa), terutama untuk memperdalam ilmu alat (gramatika) dan ilmu fikih.

      Ketika Abdul Mukti berusia 15 tahun (1930) beliau diajak kakeknya untuk menunaikan ibadah haji beserta 8 orang keluarga KH. Muhammad Siddiq sekaligus menyusul KH. Abdul Halim Siddiq yang saat itu belajar di Mekkah. Sepulang ibadah haji dengan nama Haji Abdul Hamid, beliau dijodohkan oleh kakeknya dengan adik sepupunya sendiri, Nafisah binti KH. Ahmad Qusyairi Siddiq dari Pasuruan. Namun demikian mereka belum kumpul sebagaimana suami istri dan ulama muda ini masih harus melanjutkan pendidikannya memperdalam ilmu-ilmu keislaman dengan mengaji kepada KH. Dimyathi Abdullah pengasuh Pondok Pesantren Termas, Pacitan, sampai sekitar 4 tahun (1933-1937).  Pesantren ini sudah cukup maju saat itu, baik kualitas pendidikan maupun administrasinya. Pesantren ini pula yang menjadi asal Syeikh Mahfudz At-Tarmisi (kakak KH. Dimyathi), seorang ulama besar ahli hadits yang bermukim di tanah suci Mekah yang wafat sekitar tahun 1916. Di pesantren inilah KH. Abdul Hamid bersahabat dengan KH. Ali MAksum dan Prof. Dr. H. A. Mukti Ali, MA (Menteri Agama RI 1971-1978).

         Setelah tamat dari Pondok Pesantren Termas, Pacitan KH. Abdul Hamid yang berusia 22 tahun secara resmi melangsungkan pernikahan dengan Nafisah binti Ahmad Qusyairi. Sejak perkawinan itu KH. Abdul Hamid bertempat tinggal di Pasuruan, dan mulai membantu mertua sekaligus pamannya itu mengasuh para santri. Sepeninggal mertuanya itu beliau langsung menjadi pengasuh Pesantren Salafiyah tersebut. Dari perkawinan ini pasangan KH. Abdul Hamid dan Hj. Nafisah dikaruniai enam orang anak yaitu: Anas (meninggal saat kecil), Zainab (meninggal) dan Idris (KH. Idris). Ketiga putra KH. Abdul Hamid yang hidup sampai besar dan berkeluarga itulah yang meneruskan perjuanagn ayahandanya.

      Pesantren Salafiyyah Pasuruan sesuai namanya merupakan pesantren tradisional yang menggunakan sistem tradisional atau halaqah dalam pengajian kitab kuning, atau menggunakan model sorogan, bandungan atau weton. Tetapi dalam perkembangan lebih lanjut dikembangkan pula sistem klasikal dengan didirikannya Madrasah Diniyah yang memiliki beberapa tingkatan, baik tingkat ula, wustha maupun ulya. Sedangkan untuk kajian kitab kuning model tradisional tetap dipertahankan hingga sekarang.

         Bila dilihat dari jumlah santri, pesantren itu tidak banyak berbeda dengan pesantren lain, bahkan tidak tergolong pesantren besar dengan santri ribuan. Kebesaran nama Kyai Haji Abdul Hamid justru tampak pada segi kharisma (karomah)-nya yang sudah tidak dapat diragukan lagi. Beliau memang seorang ulama ruhani, ulama spiritual yang besar, dengan kedalaman ilmu, ketinggian budi, ketaatan beribadah, penuh kesederhanaan (zuhud) dan pengaruh lain yang bersifat kerohanian. Beliau secara umum tergolong ulama spiritual, bukan ulama intelektual seperti Haji Agus Salim, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan lain sebagainya.

         Sebagian ulama spiritual atau ulama sufi biasanya memimpin suatu tarekat tertentu tapi tidak disyiarkan untuk orang awam (santri). Mereka yang mutawair sebagai mursyid (guru tarekat) terkenal antara lain adalah Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Syeikh Daud Al-Fathani, Syeikh Ismail al-Minangkabawi, Syeikh Abdurrauf as-Singkili, Syeikh Yusuf Makasar, Syeikh Muhammad Ramli Tamim dan lain sebagainya. Sedangkan yang tidak memimpin suatu tarekat atau kemungkinan mengamalkan suatu tarekat tertentu tetapi tidak disyiarkan untuk umum adalah seperti Syeikh Muhammad Khalil Madura. Tampaknya Kyai Haji Abdul Hamid termasuk yang demikian. Dengan keluhuran budi dan ketinggian kualitas spiritual sebagai ulama sufi beliau telah mencapai tingkatan spiritual yang sangat tinggi, dan sebagai ulama makrifat billah yang mutawatir beliau sudah berhak disebut Waliyullah (kekasih Allah).

         Sebagai seorang tokoh spiritual, KH. Abdul Hamid tidak muncul sebagai tokoh formal dalam arti menduduki jabatan tertentu baik dalam pemerintahan atau partai politik dan organisasi massa. Secara umum memang orang mengetahui secara jelas bahwa ulama besar ini sebagai warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, tetapi tidak terjun langsung sebagai pengurus atau pemimpinnya. Beliau merupakan tokoh belakang layar yang justru sangat menentukan melalui nasihat, pertimbangan atau pun hasil munajatnya kepada Allah. Semasa hidupnya, ulama ini merupakan tempat meminta pertimbangan bagi ulama maupun tokoh-tooh Islam lain berkenaan dengan masalah-masalah pelik dan sesuatu yang akan terjadi atau kemungkinan terjadi.

         Sebagai ulama yang berpembawaan halus, nasihat-nasihat beliau kepada tamu ataupun siapa saja yang memintanya, jarang sekali yang bersifat langsung dengan kata-kata, tetapi lebih banyak dengan perlambang tertentu. Dengan perlambang atau semacam sindiran itulah membuat orang jadi berfikir, tafakkur, think and rethink, sehingga menemukan jawabannya, walau penuh teka-teki. Nasihat yang sedemikian halus dan pelik ini memerlukan adanya kejelian, objektivitas dan kesanggupan mawas diri dari penerimanya.

         Pengaruh spiritual KH. Abdul Hamid di kalangan umat Islam besar sekali yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. pengaruh tersebut bukanlah terbatas untuk lokal Pasuruan saja tetapi memiliki jangakauan yang jauh lebih luas bahkan berskala nasional. Pengaruh ini belum lagi yang tertanamkan melalui santri-santrinya yang tersebar di berbagai kawasan dan menjadi ulama, mubaligh dan tokoh-tokoh Islam lainnya.

         Pengaruh yang sedemikian besar ini tampak sekali ketika ulama spiritual ini wafat. Setelah sakit 2 hari (kambuh dari beberapa penyakit yang dideritanya) dan dirawat di Rumah Sakit Islam Surabaya, beliau wafat dalam usia 70 tahun, pada tanggal 25 Desember 1985. Puluhan bahkan ratusan ribu kaum muslimin dari berbagai propinsi di Indosensia, takziyah mengantarkan jenazah beliau ke pemakaman di belakang Masjid Kotamadya Pasuruan.

         Semua kaum muslimin merasa ditinggalkan oleh ulama waliyullah ini, dan itu tampak dari banyaknya orang yang menziarahi makamnya hingga kini. Jenazahnya memang sudah berbaring di liang lahat, namun arwahnya terus hidup di alam barzah, namanya tetap hidup di kalangan umat. Pengaruh ulama besar ini masih terus hidup di tengah-tengah umat Islam yang selalu mengenangnya.

 


 

Sumber Tulisan : H. M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, (Jakarta: GMI, 2010).

Sumber Gambar : https://kumpulanbiografiulama.files.wordpress.com/2013/01/biografi-kh-abdul-hamid-pasuruan-jawa-timur2.jpg