KH Abbas Buntet Ulama Kharismatik

Kyai Haji Abbas (1300-1365 H/ 1879-1946 M) adalah seorang ulama dan pejuang pemberani dari Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Ulama kharismatik ini banyak memberikan gemblengan (untuk kekebalan menghadapi musuh) dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, yang banyak diikuti oleh pejuang-pejuang muda saat itu. Di samping keahliannya dalam ilmu bela diri, tenaga dalam dan kesaktian, ulama ini juga mengasuh pondok pesantren dengan jumlah santri ribuan orang. Ulama ahli fikih dan ushul fikih ini memiliki wawasan luas, terutama dalam bidang perbandingan madzhab dan masalah khilafiyah, walaupun ia sebagai penggerak pertama NU di Cirebon dan Jawa Barat. Di antara santrinya yang kemudian terkenal sebagai ahli fikih adalah Prof. Dr. KH. Ibrahim Husein, Rektor IIQ Jakarta dan Ketua Majelis Fatwa MUI.

Beliau dilahirkan di Desa Pekalangan, Cirebon, tanggal 24 Dzul-hijjah 1300 H (1879 M). Ayahnya adalah KH. Abdul Jamil bin KH. Muta’ad, dan yang terakhir ini adalah menantu KH. Muqoyyim, pendiri Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Berarti KH. Abbas merupakan cicit pendiri pesantren Buntet dari jalur neneknya.

Berkelana Menuntut Ilmu

Sebagai putera seorang ulama, beliau mendapatkan pendidikan keislaman sejak kanak-kanak dari ayahnya sendiri. Setelah mempelajari sendi-sendi agama ini, Abbas yang menginjak remaja mulai merantau untuk mengaji di berbagai pondok pesantren. Pertama kali beliau mengaji di Pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon, yang diasuh Kyai Nasuha. Selanjutnya beliau mengaji di Pesantren Jatisari, di bawah asuhan KH. Hasan. Setelah menyelesaikan pendidikannya di kedua pesantren, yang masih berada di wilayah Kesultanan Cirebon ini, pemuda Abbas melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Beliau mengaji kepada Kyai Ubaidillah, pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Tegal. Pemuda Abbas tertarik kepada kealiman KH. Hasyim Asy’ari, terutama dalam ilmu hadits, sehingga beliau memutuskan untuk meneruskan mondok di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, di bawah asuhan Hadratus Syeikh Hasyim sy’ari, yang usianya lebih tua delapan tahun darinya. Di pesantren ini beliau mengaji bersama-sama dengan Abdul Wahab Hasbullah, Bisri Syansuri dan Abdul Manaf (Abdul Karim) yang berusia jauh lebih tua darinya serta beberapa santri lainnya, yang nantinya menjadi ulama-ulama besar.

Setelah mondok di Tebu Ireng, Kyai muda ini melanjutkan pendidikannya ke Tnah Suci Mekah. Beliau sempat belajar kepada Syeikh Mahfudz at-Tarmisi (asal Termas, Pacitan) yang saat itu sudah berusia senja. Ulama ahli hadits ini adalah guru KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama lain asal tanah Melayu. Bersamaan saat itu Kyai Abbas belajar kepada Syeikh Mahfudz, beliau belajar pula pada Kyai Bakir (Yogyakarta), Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai Abdillah (Surabaya).

Selama beberapa tahun beliau bermukim di Tanah Suci Mekah al-Mukarramah untuk menuntut ilmu, memperdalam ilmu-ilmu keislaman sekaligus juga mengajarkannya kepada mukimin lainnya yang datang dari tanah Melayu. Di antaranya muridnya di Mekah adalah Kyai Khalil Balerante, Palimanan dan Kyai Sulaiman Babakan Ciwaringin, yang kebetulan mereka juga berasal dari Cirebon.

Pejuang Pendidikan Islam

Sebagai ulama besar, KH. Abbas banyak memberkan perhatian pada bidang pendidikan Islam. Sebelum mengasuh pesantren Buntet, ketika mengaji di Tebu Ireng, beliau banyak membantu seniornya KH. Abdul Manaf (Abdul Karim) dalam mendirikan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (1909/1910). Mbah Abbas dalam mengasuh santri yang berjumlah ribuan itu di damping adik-adiknya, KH. Anas (Mursyid/Khadim Tarekat Tijaniyah) dan KH. Akyas. Selanjutnya beliau juga banyak dibantu oleh putera-puteranya yang telah menjadi ulama muda seperti KH. Mustamid Abbas, Mustahdi Abbas dan KH. Abdullah Abbas dan lain-lain.

Pesantren Buntet Cirebon tidak bisa dipisahkan dari Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Pesantren ini di bawah KH. Abbas dan KH. Anas merupakan pusat pengembangan NU pada tahap awalnya untuk wilayah Jawa Barat, yang kemudian diikuti KH. Abdurrahman (Menes, Pandeglang, Banten), KH. Junaidi (Jakarta) serta KH. Ruukhiyat (Taskmalaya).

Karena itulah maka Muktamar NU ke-6, tangal 12 Rabius Tsani 1350 H (27 Agustus 1931) dilangsungkan di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Demikian pula untuk masa perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaan. Peran yang diambil oleh KH. Abbas dan keluarga Pesantren Buntet sama dengan peran aktif yang di ambil oleh NU yang saat itu berada dalam wadah Masyumi.

Pendiri Laskar Hizbullah

Menjelang akhir masa penjajahan Jepang, berdirilah PETA (Pembela Tanah Air) yang pusat latihannya di Bogor. Di samping itu berdiri pula Barisan Hizbullah, yang pusat latihannya di Cibarusa (perbatasan Bekasi dengan Bogor). KH. Abbas ikut dalam latihan calon Daidancho (Komando Batalyon) Hizbullah di bawah pimpnan KH. Zainul Arifin (Konsul NU Jakarta, Panglima Hizbullah). Sepulang dari latihan, KH. Abbas yang sudah berusia di atas 60 tahun ini mendirikan Hizbullah yang berpusat di Pesantren Buntet.

KH. Abbas sebagai pimpinan dibantu KH. Anas, KH. Murtadlo, KH. Shaleh, KH. Mujahid dan beberapa ulama lainnya yang lebih muda, seperti KH. Abdullah Abbas dan KH. Hasyim Anwar. KH. Abbas banyak mengajarkan ilmu bela diri, kedigdayan (kesaktian), kekebalan dan ilmu-ilmu lain semacamnya kepada para santri san para pejuang, khususnya anggota Hizbullah yang kebanyakan dari ANSOR Nahdlatul Ulama (ANU). Agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, maka urusan pendidikan dan pengajaran diserahkannya kepada KH. Anas.

Sebagai pusat organisasi dan pusat perjuangan, tentu saja KH. Abbas beserta keluarga Pondok Buntet selalu diawasi, bahkan merupakan incaran pemerintah penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Hal ini berjalan sejak lama, sejak Mbah Muqoyyim mendirikan pesantren ini (sekitar 1750) sampai dengan masa Mbah Abbas, karena mereka memang anti penjajah.

Berperan Dalam Pertempuran 10 November, Surabaya

         Dengan pecahnya Perang Surabaya, khususnya pertempuran 10 Nopember 1945, peran pemuda santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi semakin sugnifikan. Mereka kebanyakan sudah pernah mengikuti gemblengan kekebalan dari berbagai ulama, termasuk kepada KH. Abbas sendiri. Tidak bisa disangsikan lagi peran KH. Abbas dalam pertempuran Surabaya, karena ulama ini secara khusus diminta Hadratus Syeikh segera ke Jombang untuk memberikan gemblengan dan sekaligus memimpin jihad di Surabaya melawan tentara sekutu yang diboncengi NICA. Hal ini sesuai dengan Resolusi Jihad ang diputusakan para ulama NU/Masyumi dalam musyawarahnya di Pesantren Tebu Ireng, 21-22 Oktober 1945. KH. Abbas, walaupun sudah sepuh, tidak saja memberikan komando Bung Tomo.

Ulama Patriotik, Kokoh Jiwa Nasionalisme

         Jiwa nasionalisme dan patriotic KH. Abbas tampak sekali ketika terjadi perundingan antara utusan Indonesia dan Belanda di Linggar Jati, Cirebon, yang melahirkan Perjanjian Linggar Jati (diparaf 15 Nopember 1946 oleh Sutan Syahrir dan Schermerhorn). Hasil perjanjian itu benar-benar menyakitkan hati KH. Abbas dan Bangsa Indonesia umumnya, karena Belanda (NICA) hanya mengakui wilayah Indonesia terdiri dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan, sedang wilayah yang lainnya tidak.

Baca Juga: Jejak Perjuangan dan Spiritualitas Pangeran Diponegoro

         Mendengar hasil Perundingan Linggarjati (yang tidak jauh dari Buntet) tersebut KH. Abbas yang tak mempan di tembak musuh ini merasa terpukul dan jatuh sakit. Akhirnya beliau wafat pada hari Ahad, tanggal 1 rabiul Awal 1365 H, sekitar Desember 1946. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Buntet, Cirebon. Walaupun ulama ini telah pulang ke rahmatullah, tetapi jasa-jasanya kepada agama, bangsa dan negara tetap terkenang di kalangan masyarakat. Demikian pula perjuangannya tetap dilanjutkan oleh putra-putrinya dan para santrinya yang berjumlah ribuan, yang sebagian besar telah menjadi ulama dan tokoh masyarakat di berbagai bidang dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia ini.


Sumber Tulisan : H. M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara, (Jakarta: Gelegar Media Indonesia, 2010).

Sumber Gambar : pustakamuhibbin.blogspot.com