Kepiluan Kurban Ibrahim dan Ismail

0
1171
ibrahim dan ismail

Oleh: K. Mas Ahmad Gholib Basyaiban (PP Al-Ibrohimi Sidoresmo Surabaya)

Di antara hikmah disyari’atkan kurban adalah mengingatkan kisah putra Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-yang hampir saja disembelih, namun akhirnya diganti ditebus oleh Allah dengan kambing yang besar.

Putra Nabi Ibrahim

Jauh sebelum itu, ketika Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-keluar dari api dalam keadaan selamat, namun tak satupun orang dari kaumnya mendapatkan petunjuk, hijrah lah beliau beserta Nabi Luth-‘alaihis salam-putranya saudaranya, bersama Istri Nabi Ibrahim-‘alaihis salam- sendiri, Sayyidah Sarah menuju tanah Syam. Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-tercatat sebagai makhluk pertama yang berhijrah demi ketaatan kepada Allah.

Beliau bersabda: “Sungguh aku orang yang hijrah ke tempat yang diperintahkan Tuhanku kepadaku, Tuhanku menunjukkanku sesuatu yang menjadi kebaikan bagi agamaku serta berbagai hal yang aku cari.”

Ketika Beliau sampai di al-Ardh al-Muqaddasah (Bumi yang Disucikan) beliau -‘alaihis salam-berdoa : “Wahai Tuhanku, karuniakan kepadaku putra yang termasuk dari orang-orang saleh, yang akan menjadi penggantiku dan mewarisi derajatku.”

Allah pun mengabulkan doanya, kemudian memberi kabar gembira beliau akan dikaruniai seorang putra yang sangat penyabar.

Baca Juga: Memotong Kuku dan Rambut Sebelum Kurban, Bolehkah ?

Nabi Ibrahim Diperintah Menyembelih Putranya

Ketika putra Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-mulai tumbuh besar, hidup bersamanya, membantunya dalam berbagai keperluan, Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-menerima wahyu melalui mimpi agar menyembelih putranya—satu pendapat menyatakan yang dimaksud adalah Isma’il, sedangkan pendapat lain menyatakan Ishaq, namun selanjutnya tulisan ini lebih memilih Isma’il karena popularitasnya—. Di malam Tarwiyah beliau bermimpi ada yang berkata kepadanya: “Sungguh Allah memerintahkanmu agar menyembelih putramu.”

Di pagi harinya Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-hatinya menduga kuat mimpi itu benar-benar perintah dari Allah Swt.

Malam berikutnya beliau bermimpi hal yang sama, begitupun malam ketiga berikutnya, sehingga beliau yakin itu adalah wahyu dan bertekat bulat hendak menyembelih putranya.

Al-Imam Ibn Ishaq dan selainnya menjelaskan:

“Ketika Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-diperintahkan untuk menyembelih Isma’il, beliau bersabda:

“Wahai Putraku ambillah tali dan pisau ini, lalu berangkatlah bersamaku menuju lereng ini, agar kita dapat mencari kayu bakar.”

Baca Juga: Kurban 1 Kambing Untuk Sekeluarga

Taatnya Nabi Ibrahim dan Ismail

Ketika sampai di tempat sepi bersama Isma’il-‘alaihis salam-di lereng itu, beliau memberitahu perintah Allah kepadanya. Isma’il-‘alaihis salam-menjawab: “Wahai Ayahanda, lakukan perintah Kepada Allah kepada Anda itu.”

Dalam al-Qur’an difirmankan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 102)

Isma’il-‘alaihis salam-berkata: “Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepada Anda, Anda akan menemui diriku insyaallah termasuk orang-orang penyabar.” (QS. as-Shaffat: 102)

Sayyidina Ibn Abbas mengisahkan: “Ketika Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-melaksanakannya, Isma’il-‘alaihis salam-berkata:

“Wahai Ayahku, kuatkan ikatanku agar aku tidak berkelit membingungkan, singsingkan pakaian Anda agar tidak ternoda sedikitpun oleh percikan darahku sehingga pahalaku berkurang dan Ibuku melihatnya lalu berduka, tajamkan pisau Anda dan segerakan mengoroknya ke leherku agar lebih ringan bagiku. Ktika Anda mendatangi Ibuku, sampaikan salamku kepadanya, dan bila menurut Anda bagus mengembalikan pakaianku kepada Beliau, maka lakukan, barangkali itu bisa lebih menghiburnya.”

Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-menjawab:

“Wahai Putraku, Engkau menjadi sebaik-baiknya pertolongan dalam melaksanakan perintah Allah.”

Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-pun segera melaksanakan permintaan putrannya. Beliau menghadap kepada Isma’il-‘alaihis salam-sambil menangis yang juga disambut tangisan. Lalu ketika beliau mulai menggorokkan pisau keleher Isma’il-‘alaihis salam-, pisau itu tidak mempan sama sekali, sehingga beliau mengasahnya dengan batu agar lebih tajam duat/tiga kali. Namun semua usahanya tidak mempan sedikitpun. Semua tercegah oleh Kuasa Allah-subhanahu wata’ala-.

Baca Juga: Fikih Kurban (Waktu Pelaksanaan, Kesunahan, Alokasi Daging dan Masalah Seputar Kurban )

Dalam kondisi seperti itu Isma’il-‘alaihis salam-berkata:

“Wahai Ayahku, tengkurapkan aku, arahkan wajahku ke tanah, karena bila melihat wajahku Anda merasa kasihan dan menjadi tidak tega. Itu akan menghalangi Anda melaksanakan perintah Allah. Begitupun diriku, melihat pisau itu takut dan ngeri karenanya.”

Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-pun melakukannya. Beliau menaruh pisau di atas tengkuk Isma’il-‘alaihis salam-. Namun apa yang terjadi? Pisau pun terpental.

Tiba-tiba Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-mendengar seruan:

يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) (الصافات: 104-107)

“Wahai Ibrahim, Engkau sungguh-sungguh telah membenarkan mimpi itu—dengan melaksanakannya semampumu. Cukup bagimu apa yang telah kau lakukan—. Sungguh Kami sebagaimana memberi balasan kepadamu, juga memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sungguh perintah menyembelih ini adalah ujian yang sangat nyata. Kami tebus Isma’il dengan kambing yang besar.” (QS. as-Shaffat: 104-107)

Cinta pada Allah melebihi lainnya

Allah menebusnya dengan kambing yang sangat besar sebagai pengganti menyembelih Isma’il-‘alaihis salam-. Sebagaimana memberi imbalan kepada Nabi Ibrahim -‘alaihis salam-atas kesabarannya, Allah juga akan memberikan imbalan yang setimpal pula kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yakni dengan menghilangkan hal-hal yang memberatkan hidup mereka.

Bercermin pada kisah ini, masihkah kita berat hati melaksanakan ibadah kurban yang hanya berupa kambing, sapi atau mungkin onta? Untuk membuktikan cinta kita pada harta tidak sebanding dengan cinta kita kepada Allah.

Lihatlah, Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-mengorbankan putra terkasihnya demi memenuhi ketaatan total kepada Allah. Ismail-‘alaihis salam-putranya pun merelakannya demi Ridha Allah semata.

___________________

Keterangan:

  1. Sumber : Tafsir Jalalain dan Khasyiah as-Shawi, III/284-285.
  2. Diedit oleh: Ahmad Muntaha AM
  3. Ilustrasi: blogkhususdoa