Hanya Kepada Allah Kita Mengadu (Hikam-38)

0
1330
kepada allah kita mengadu

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Sejauh perjalanan hidup sampai sekarang, pernahkan kita mengalami kesusahan, kebangkrutan, kesialan bahkan cobaan dan musibah? Hari-hari ke depan pun atau justru saat ini kita sedang mengalaminya? Lalu bagaimana kita menyikapinya? Tidakkah hanya kepada Allah kita mengadu? Dalam Hikam-38 Syaikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menerangkan:

لَا تَرْفَعَنَّ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةً هُوَ مُورِدُهَا عَلَيْكَ فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرُهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعًا؟ مَنْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ لَهَا عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا؟

“Janganlah mengadukan hajat (kesusahan, cobaan atau musibah) kepada selain Allah sementara Ia yang mendatangkannya kepadamu. Bagaimana bisa selain Allah menghilangkan musibah yang Allah turunkan kepadanya? Orang yang tidak mampu menghilangkan musibah dari dirinya sendiri, bagaimana dia mampu menghilangkannya dari orang lain?”

Hanya Kepada Allah Kita Mengadu

Kalam hikmah ini sangat berkaitan dengan kalam sebelumnya, yaitu kalam Hikam-36 yang mengajarkan, bahwa pada hakikatnya yang wujud hanya Allah semata. Wujud manusia dan makhluk lainnya hanya merupakan  anugerah-Nya, atau meminjam bahasa Syaikh Ibn ‘Ujaibah (Iqadh al-Himam, 86) hanya merupakan khayal wa wahmi (wujud semu belaka).

Karennya, bila Allah menurunkan kefakiran, kesusahan, musibah, cobaan dan semisalnya, hendaknya hanya kepada Allah kita mengadu, merelakannya dari sisi sebagai kehendak Allah dan menenggelamkan diri dalam zikir kepada-Nya. Tidak bergantung dan mengusung harapan kepada selain-Nya, sering sabda Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ. (رواه الترمذي، حسن)

“Orang yang tidak memohon kepada Allah maka Allah akan memurkainya.” (HR. at-Tirmidzi. Hasan)

Yang Tidak Mengadu Justru Dimurkai-Nya

Kenapa orang yang enggan memohon kepada Allah justru dimurkai-Nya? Merujuk penjelasan al-Hafizh al-Munawi (Faidh al-Qadir, III/16), karena pasti kalau bukan orang yang putus asa maka ia adalah orang yang sombong. Keduanya dimurkai oleh Allah. Bila demikian maka kita tahu, bahwa Allah akan murka ketika tidak diminta dan sebaliknya manusia justru sering marah ketika diminta.

Baca Juga: Ketajaman Mata Hati (Hikam-36)

Sebagaimana pula pesan Sufi agung Ahlussunnah wal Jama’ah abad ke-3 Hijriyah, Abu Bakar al-Warraq (w. 240 H) kepada koleganya, Muhammad bin Hatim as-Samin (w. 235 H) ulama ahli hadits guru Imam Muslim (w. 261 H) ketika bertanya, apa yang dapat mendekatkannya terhadap Allah dan manusia? Lalu dijawab (Syu’ab al-Iman, II/35):

أَمَّا الَّذِي يُقَرِّبُكَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى فَمَسْأَلَتُهُ، وَأَمَّا الَّذِي يُقَرِّبُكَ مِنَ النَّاسِ فَتَرْكُ مَسْأَلَتِهِمْ.

“Yang mendekatkanmu kepada Allah Ta’ala adalah meminta kepada-Nya, sedangkan yang mendekatkanmu kepada manusia adalah tidak meminta kepada mereka.”

Dalam konteks ini Syaikh Ibn ‘Ujaibah menyatakan, bahwa di antara (hal yang menunjukkan) sedikitnya rasa malu manusia adalah mengadukan kesusahan kepada selain Allah —subhanahu wa ta’ala—. Kemudian beliau mengutip Syaikh Abu al-Hasan as-Syadizi—radhiyallahu ‘anhu—:

“Aku putus asa terhadap diriku untuk dapat membuat kebaikan bagi diri sendiri, maka bagaimana aku tidak putus asa terhadap kebaikan orang lain kepadaku. Aku (hanya) mengharap kepada Allah untuk kebaikan orang lain, maka bagaimana aku tidak mengharap kepada-Nya untuk kebaikan diriku sendiri?”

Baca: Seri Artikel Kajian Hikam

Hikmah Utama

Karena itu semestinya kita paham, bahwa orang lain sama seperti kita yang pada hakikatnya tidak dapat berbuat baik terhadap diri sendiri. Lalu bagaimana bisa ia berbuat baik untuk orang lain? Dari sini hendaknya kita semakin yakin, hanya Allah harapan kita. Hanya kepada Allah kita mengadu. Hanya kepada Allah, Tuhan yang pemberian dan anugerah-Nya selalu langgeng abadi, kita mengadukan segala kesusahan, kebangkrutan, kesialan, musibah dan cobaan.

__________

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), 86-87.
  2. Abdurrauf al-Munawi, Faidh al-Qadir, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H/1994 M), III/16.
  3. Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1410 H), edisi: Muhammad as-Sa’id Basyuni Zaghlul, II/35.

Ilustrasi: Freepik