Oleh: Ahmad Muntaha AM

Video diatas seakan menggambarkan fenomena saat ini di lingkungan sekitar kita. Ketika gemerlap harta benda menjadi standar kesuksesan, ketika pangkat jabatan menjadi kebanggaan, amanah dan kejujuran kian langka. Semua langkah wajar maupun di luar kewajaran, baik buruk, pantas tidak pantas, ditempuh untuk meraih kepuasan tiada batas.

Bukankah Nabi telah mengajarkan, hakikat kaya adalah kaya hati, bukan kaya duniawi:

إنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ. (رواه ابن حبان والحاكم صحيح)

Niscaya hakikat kaya adalah kaya hati dan hakikat fakir adalah fakir hati.” (HR. Ibn Hibban dan al-Hakim. Shahih)

Baca Juga: Dahulukan Etika Sebelum Ilmu (Kisah Tragis Santri Terbaik)

Lalu apa maksud hadits Nabi Muhammad─shallallahu ‘alaihi wa sallam─ini?

Pakar hadits asal kota Badajoz Spanyol Ibn Batthal (w. 404 H/1013 M) menjelaskan, banyak orang diberi kelapangan harta namun tidak merasa cukup dengannya. Ia masih terus bergerak menumpuk kekayaan tanpa peduli dari mana asalnya, maka senyatanya dia adalah orang yang sangat fakir, karena ketamakannya.

Hakikat kaya adalah kaya hati

Hakikat kaya adalah kaya hati, yaitu kayanya orang yang merasa cukup dengan harta yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, tidak mengumbar nafsu dan bersikeras mengejarnya.

Sementara menurut pakar hadits asal Spanyol (Cordova) lainnya, Abu al-‘Abbas al-Qurthubi (478-656 H/1182-1258 M), maksud hadits di atas adalah bahwa kaya yang bermanfaat, yang agung dan yang terpuji adalah kaya hati. Artinya, ketika merasa cukup dengan harta yang dimilikinya, maka orang akan mencegah diri dari ketamakan, sehingga menjadi pribadi yang mulia dan agung. Bahkan justru ia memperoleh keunggulan, kesucian, kemuliaan dan pujian lebih banyak daripada kekayaan yang didapatkan oleh orang yang fakir hati karena ketamakannya. Orang yang fakir hati menjeratkan dirinya dalam kerendahanm dan kehinaan karena mentalitasnya yang rendah, kekikirannya dan justru banyak orang yang mencelanya, meremehkan derajatnya, sehingga menjadi orang yang paling rendah dan paling hina.

Baca Juga: Teladan Nabi – Sikap Kepada Orang-Orang Tersisih

Karenanya, banyak orang yang miskin harta tapi hatinya kaya. Sebaliknya banyak pula yang bergelimpangan harta justru miskin kehormatan diri.

Sumber: Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H), XI/271.