Kapan Waktunya Membaca Doa Berbuka Puasa yang Tepat?

0
292
baik bagi orang beriman

Matahari di bulan suci Ramadhan segera tenggelam. Langit mulai gelap, dan televisi juga kebanyakan kompak menayangkan acara kultum dan nasihat singkat dari banyak ustadz-ustadz ternama. 

Yang dari tadi ngabuburit menunggu waktu buka puasa juga telah mempersiapkan apa saja yang hendak disantap. Hanya tinggal menunggu kumandang adzan Maghrib, bunyi sirine khas, suara bedug, atau banyak penanda lain yang menunjukkan bahwa tiba waktunya berbuka. Biasanya kadang di tiap daerah berbeda-beda. 

Dan waktu yang ditunggu-tunggu itu akhirnya telah tiba. Gema suara muadzin mulai terdengar. Televisi dan radio juga ikut memperdengarkan adzan. Banyak pemandangan umat muslim duduk khidmat dalam limpahan syukur lantas berdoa. Sebuah keluarga besar yang lengkap, nampak harmonis ketika sang ayah memimpin doa, dan yang hadir disana mengamininya. 

Kebersamaan itu seperti sebuah rutinitas sederhana yang seolah bisa membayar semua rasa lapar juga dahaga seharian. 

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ 

Biasanya sebelum mulai menyantap hidangan berbuka, atau suguhan takjil, beberapa dari kita akan membaca doa tersebut. Ada beberapa versi dari doa tersebut. 

Dalam sebuah episode film animasi terkenal, doa tersebut juga nampak dibaca sebelum mulai makan dan minum. Sinetron yang tayang saat Ramadhan juga banyak menayangkan adegan demikian, ketika momen berbuka. Kebanyakan televisi juga radio pun memutar doa tersebut setelah selesai kumandang adzan.

Tapi sebenarnya, sesuai keterangan dalam kitab Fathul Mu’in, doa diatas ternyata waktu kesunahan membacanya adalah setelah kita selesai berbuka puasa. Bukan sesaat sebelumnya. Keterangan tersebut dipertegas juga dalam kitab I’anah Thalibin. 

ويسن أن يقول عقب الفطر: اللهم لك صمت ، وعلى رزقك أفطرت ويزيد – من أفطر بالماء -: ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الاجر إن شاء الله تعالى 

وقوله: (عقب الفطر) أي عقب ما يحصل به الفطر، لا قبله، ولا عنده 

Dan disunnahkan setelah berbuka puasa untuk berdoa; ‘allahumma laka shumtu, wa’ala rizqika afthartu’ (ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa, dan atas rizki-Mu aku berbuka). Dan bagi yang berbuka puasa dengan air, menambahkan kalimat; ‘dzahaba adz-dzamau, wabtallat al-‘uruqu, wa sabata al-ajru, insya Allah ta’ala’ (telah hilang dahaga, dan basah kerongkongan, juga tetaplah pahala, insyaallah ta’ala). 

(Penjelasan akan perkataan mushanif; setelah berbuka): maksudnya adalah dibaca setelah tercapainya maksud dari berbuka puasa. Tidak dibaca sebelum berbuka, juga tidak saat sedang berbuka.” (Syaikh Abu Bakar Usman ad-Dimyati, I’anah Thalibin, [Beirut, Darul Fikr, 1997 M.], Vol. II, hal 279 M.) 

Bila kita membaca referensi hadis-hadis tentang doa berbuka puasa, kita akan menemukan diksi seperti hadis imam Thabrani berikut, 

عن أنس ، قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر ، قال : بسم الله اللهم لك صمت ، وعلى رزقك أفطرت 

Dalam pemilihan kalimatnya, hadis tersebut menggunakan shigat, atau bentuk kalimat fi’il madzi, past tense, atau kata kerja kala lampu (إذا أفطر) yang cenderung memiliki makna waktu yang sudah lewat: telah dilakukan. Yang berarti, makna hadis tersebut bila dipahami sesuai aturan gramatikal Arab kurang lebih adalah, “Rasulullah shallahu’alaihiwasallam ketika telah selesai berbuka puasa, beliau berdoa…” 

Itu akan memberikan pemahaman, bahwa doa tersebut, dengan berbagai macam versinya, seharusnya sunah dibaca setelah selesai berbuka. Bukan sebelumnya. 

Lantas bagaimana bila menemukan orang lain yang membacanya sebelum berbuka? Sebenarnya kita tidak perlu mempermasalahkannya jadi panjang lebar. Sebab doa tersebut bukan kalimat yang wajib dilafalkan, tidak memiliki kaifiyah wajib seperti misalnya surat Al-fatihah yang dalam salat bila dibaca, maka waktunya harus ketika sedang dalam keadaan berdiri. 

Doa tersebut sendiri, substansi dan kandungan maknanya sudah sangat baik apabila dibaca. 

Namun tentunya, jika sudah tahu tata caranya yang benar, bila kita ingin mengikuti untuk membaca doa berbuka puasa yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam, dengan cara yang dilakukan oleh beliau pula, maka kita bisa membaca doa tersebut setelah berbuka puasa, bukan sebelumnya. 

Sebelum berbuka puasa, sebaiknya kita membaca basmalah, juga doa yang diajarkan oleh nabi sebelum menyantap hidangan seperti biasa. Kemudian setelah selesai, kita melengkapinya dengan membaca doa berbuka. Sebagai bentuk rasa syukur yang kita panjatkan atas nikmat berpuasa dan berbuka yang telah dianugerahkan. 

Wallahu a’lam.