Jangan Biarkan Hasud Tumbuh dan Berkembang pada Dirimu

Pilihan

Fikih Kebencanaan Perspektif NU (bag-1)

PENDAHULUAN Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor. ...

Bolehkah Membatalkan Sholat Karena HP Berdering ?

Sering kali saat ke masjid kita menemukan instruksi untuk mematikan HP “HP HARAP DIMATIKAN”. Sebut saja pak Jono, seorang kuli yang rajin...

Pilihan Mendalami Agama atau Berdakwah

Galau, bingung dan penuh dilematis, mungkin inilah yang dirasakan kang Sholeh santri Ibtidaiyyah yang baru saja memulai petualangan mempelajari ilmu agama khas...
Arina Robithoh Fuadina
Alumni PP An Nawawi 2 Magelang. Santri di P3HM (Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat) Lirboyo Kota Kediri.

Oleh: Arina Robithoh Fuadina (Santri PP Hidayatul Mubtadiaat Kota Kediri)

Hasud adalah mengharapkan hilangnya nikmat orang lain. Adapun mengharapkan sesuatu yang dimiliki orang lain itu dinamakan dengan ghibthah.

Ghibtah bukanlah sesuatu yang hina, karena sesungguhnya ghibthah merupakan sebab untuk mendapatkan kebaikan. Rasulullah Saw bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ يَغْبِطُ وَالْمُنَافِقُ يَحْسُدُ.

“Orang mukmin itu melakukan ghibthah, sedangkan orang munafiq melakukan hasud.”

Artinya, pada dasarnya sifat yang diperbolehkan pada diri seorang mukmin adalah sifat ghibthah, yakni mengharapkan nikmat yang dimiliki oleh orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orangnya. Seperti halnya seorang pelajar mempunyai keinginan bisa menjadi bintang kelas seperti temannya, akan tetapi dia sama sekali tidak mempunyai harapan agar temannya itu tidak dapat menjadi bintang kelas lagi. Sementara itu, ghibthah yang berhubungan dengan dunia hukumnya mubah, sedangkan yang berhubungan dengan ketaatan hukumnya sunnah.

Dengan demikian, sifat hasud merupakan sifat yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang munafik saja. Jadi, apabila seorang mukmin memiliki sifat hasud maka ia tidak lagi dikategorikan sebagai orang mukmin, melainkan ia adalah orang munafiq.

Menghilangkan Hasud

Beberapa hal yang dapat menghilangkan hasud pada hati seseorang di antaranya adalah:

  1. Senantiasa berpegang teguh pada agama Allah Swt.
  2. Memandang bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan hasud nantinya akan berdampak pada dirinya sendiri.
  3. Ridha atas takdir dan ketentuan dari Allah Swt.

Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw bersabda:

اَلْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ. (رواه ابن ماجه)

“Hasud memakan kebaikan seperti halnya api melalap kayu bakar.” (HR. Ibn Majah)

Artinya, bahwasanya apabila seseorang memiliki sifat hasud serta membiarkannya tumbuh dan berkembang pada dirinya, maka tanpa disadari pahala setiap kebaikan yang dilakukannya akan hilang sia-sia karena telah dilalap oleh sifat tersebut.

Karena itu, jangan biarkan hasud tumbuh dan berkembang pada dirimu hingga melalap habis kebaikanmu.

Baca Juga: Fenomena Muasyaroh (pergaulan) Santri Putra dan Putri 


Sumber:
Hafizh Hasan al Mas’udi, Taisir al Khalaq, (Surabaya: Al Hidayah, 1339 H), 42.

Ilustrasi: freepik

More articles

Terbaru

Doa Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Sholat Tahajud memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan. Tentunya akan semakin memperkuat semua niat dan tujuan kita...

Niat Sholat Tahajud dan Keutamaannya

Sholat Tahajud atau yang biasa kita kenal dengan Sholat malam merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan, lazimnya dilaksanakan di sepertiga...

Sayyid Gus Dur Dan Sayyid Millennial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagergunung, 27 Desember 2019 Gus Dur itu Sayyid. Sayyid sejati. Sebab yang berhak mengenakan gelar sayyid...

Gus Dur, Al-Muhallab Dan Dedikasi Generasi Milenial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagi dingin di Pagergunung, 28 Desember 2019 Ini sedang baca-baca karya al Muhallab : al Mukhtashar...

Nafkah wajib istri termasuk kuota internet & make up nih ?

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami...