Oleh : Moh Nasirul Haq.Lc (Santri Rubat Syafi’i Mukalla Yaman).

Cinta adalah gelombang perasaan indah yang menghiasi setiap insan. Diberikan oleh sang pencipta kepada hambanya. Dengan cinta kehidupan ada, dengan cinta dunia menjadi berwarna, dengan cinta tiada insan bermuram durja, “Al Hubb Huwa Mailul Qolbi” cinta itu adalah sebuah kecondongan hati pada sang kekasih.

Cinta mengendap didalam jiwa, meresap pada segenap raga menyalurkan nilai positif dalam kehidupan. Terkadang cinta yang mendalam membuat seorang kekasih tidak akan mengumbar rahasia cintanya, dan itulah cinta yang suci dan rahasia. Sebagaimana dikatakan:

مَنْ أَحَبَّ فَعَفَّ فَكَتَمَ فَمَاتَ مَاتَ شَهِيْدًا

“Barangsiapa yang mencinta kemudian tidak bermaksiat (suci) kemudian menyimpan perasaannya dan meninggal, maka ia mati dalam keadaan syahid.”

Cinta Menjadi Luapan Rindu

Perasaan cinta jika menjadi semakin kuat gelombangnya, semakin memuncak gairahnya, menggebu perasaannya, maka akan menjadi luapan “Rindu”. yang mana kelak perasaan rindu membutuhkan pengorbanan dari salah satunya atau dari keduanya.

Ketika perasaan itu semakin bertambah dan bergejolak, maka kedua perasaan itu akan menjadi satu, tidak bisa dibedakan antara keduanya, cerita mereka satu, jalan mereka satu, keinginan mereka satu, perasaan mereka satu, Tatapan mereka satu, hingga hampir tak bisa dibedakan!!!.

Jika perasaan rindu  memuncak hingga ajal menjemput maka ia masuk surga selama tidak bermaksiat dan cintanya terahasiakan. sebagaimana pendapat Ulama tentang para perindu yang mati dalam keadaan rindu;

كَفَى المُحِبِّيْنَ فِي الدُّنياَ عَذَابُهُم * * تالله لَا عَذَبَتهُم بَعدَهَا سَقَرُ

بَلْ جَنَّةُ الخُلُدِ مَأُوَاهُمْ مُزَخْرَفَةً * * يَنْعِمُونَ بِهَا حَقًّا بِمَا صَبَرُوا

فَكَيْفَ لَا، وَهُمُ حَبُّوا وَقَدْ كَتَمُوا * * مَعَ العِفَافِ ؟ بِهَذَا يَشْهَدُ الخَبَرُ

يَأْوُوْا قَصُوْرًا، وَمَا وَفَوا مَنَازِلَهُم * * حَتَّى يَرَوا اللهَ، فِي ذَا جَاءَنَا الاَثَرُ

Cinta Itu Hakikatnya Satu

Sejatinya keadaan para kekasih; jika salah satu kekasih berkata, maka kekasih lainnya yang akan menyempurnakan. Jika salah satu marah, maka pasangannya yang akan mendinginkannya. Itulah kesatuan cinta mengendap dalam raga merasuk pada sukma masing-masing pasangannya.

Bahkan jika salah satu dari mereka terbunuh, maka siapapun hampir tak bisa membedakan siapa diantara mereka yang terbunuh, karena hakikatnya mereka adalah Satu. Berkata seorang penyair:

لَوْ مَرَّ سَيْفٌ بَيْنَنَا لَمْ نَكُنْ * نَعلَم هَلْ أُجْرِيَ دَمِي أَمْ دَمُكِ

jika pedang menyayat kita, kitapun tak bisa membedakan apakah yang dialirkan darahku ataukah darahmu???.”

Sang Kekasih Selalu Dalam Langkah

Perasaan cinta yang mendalam akan menjadikan sang kekasih akan selalu berada dalam setiap langkah sang kekasih, dirinya menjelma dalam diri sang kekasih, namanya adalah nama sang kekasih.

Teringat suatu kisah saat “Qais Majnun” ditanya oleh seseorang ; “Siapa namamu kisanak??”, Qais Majnun menjawab ; “Aku adalah Laila”. Berkata lagi orang itu ; “bukankah Laila telah mati?”, Qais Majnun menjawab ; Sesungguhnya Laila bersemayam dihatiku dan tak pernah mati.”

Cinta akan mengantarkan kita kepada kecintaan yang abadi, mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh kekasih kita. Sebagaimana kisah cinta “Zulaikha” kepada nabi “Yusuf”, membuat Zulaikha mabuk kepayang dan lupa daratan.

Siang dan malam hanya terbayang wajah Yusuf, kemewahan daan kekayaan ia abaikan demi Yusuf, kerinduannya kepada yusuf membuatnya memberi nama segala sesuatu dengan nama ” Yusuf”, Tentu saja tanpa ia sadari !!!. orang disekitarnya semua bagaikan yusuf, wajah yusuf selalu ada di mata indah Zulaikha, tak pernah hilang !!!.

Saking rindunya kepada yusuf, jika zulaikha melihat langit, ia melihat nama yusuf tertulis diantara bintang yang bertaburan, wajah yusuf pun Nampak jelas di hamparan angkasa raya.

Zulaikha Selalu Terbayang Yusuf

Tangisan kerinduan, sepanjang hari membasahi pipinya, antara harap dan cemas untuk sebuah pertemuan yang di dambakan.

Cinta Zulaikha kepada Yusuf mengarahkannya untuk mencintai apapun yang dicintai sang pujaan hati. Cinta Yusuf kepada Allah s.w.t menjadikan Zulaikha turut mencintai Allah s.w.t, mengalihkan dari cinta nafsu menjadi cinta hakiki, menrubah dari cinta dunia menjadi cinta akhirat.

Terlihat dari percakapan Ketika Zulaikha bermaksud merayu Yusuf, Yusuf pun berusaha menuntun Zulaikha kepada cinta yang suci.

Zulaikha berkata; “Duhai Yusuf rambutmu sungguh indah sekali”, Yusuf menjawab; “rambut itu yang pertama kali akan rontok dari badanku.”

“Duhai Yusuf badanmu sungguh indah sekali”, Yusuf menjawab; “disitulah tempat ulat ulat dan serangga menggerogoti.”

“Duhai Yusuf sungguh indah kedua bola matamu”, Yusuf menjawab; “Air mata kedua mataku selalu mengalir karena takut kepada Allah s.w.t.”

Cinta mereka pun bersemi menjadi cinta yang suci menggapai ridlo ilahi robbi. Cinta tidak terkhusus kepada wanita akan tetapi kepada apa saja dan siapa saja. Sebagaimana cinta para Ulama’ dan Awliya’ kepada nabi Muhammad s.a.w.

Jalan Kita Adalah Jalan Cinta

Dikisahkan Imam Ahmad bin Hambal sangat mencintai Rasulullah s.a.w ia berkata; “Demi Allah, seandanya datang satu malam saja padaku tanpa aku bisa melihat Rasulullah s.a.w dalam mimpi, maka pasti akan aku golongkan diriku sebagai orang munafiq.”

Begitu juga cinta kita kepada orang tua dan guru, Tentu sudah banyak kisah yang sering kita dengarkan. Kesemuanya itu berasal dari satu sumber perasaan yang disebut “Cinta”, yang mana dengan cinta muncullah keindahan di muka bumi ini.

Madzhab cinta (jalan cinta) tidak hanya sekedar menghiasi kehidupan dengan keindahan, akan tetapi justru dengan menomersatukan keindahan dalam segenap aspek kehidupan. Madzhab kita / jalan kita adalah madzhab cinta yang akan selalu kita bawa dalam menjalani kehidupan yang kelak menunjukkan pada jalan cinta yang suci yang abadi menggapai ridlo Ilahi.

 

Yaman, 2017


Ilustrasi : maxpixel

1 COMMENT

Comments are closed.