Istri Salihah Istri Seperti Pembantu, yang Benar Aja?

0
525
pengantin wanita

Mukhotob atau audiens dari referensi bab nikah aslinya, pada mulanya, adalah pria.

Referensi berasal dari kitab Mau’idzotul Mukminin (ringkasan dari kitab Ihya Ulumuddin imam Al-Ghazali) dan turunannya.

.فَوَائِدُ النِّكَاحِ: فَخَمْسَةٌ: الْوَلَدُ، وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ، وَتَدْبِيرُ الْمَنْزِلِ، وَكَثْرَةُ الْعَشِيرَةِ، وَمُجَاهَدَةُ النَّفْسِ بِالْقِيَامِ بِهِنَّ.

Keuntungan menikah ada lima: anak, mematahkan atau meredam syahwat, ada yang mengatur urusan domestik, memperbanyak kerabat, dan kesungguhan usaha memenuhi kebutuhannya istri.” (Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mau’idhotul Mukminin, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, tt.], halaman 102).

ومنها‏:‏ تفريغ القلب عن تدبير المنزل، والتكفل به بشغل الطبخ والكنس والفراش وتنظيف الأواني وتهيئة أسباب العيش، فإن الإنسان يتعذر عليه أكثر ذلك مع الوحدة، ولو تكفل به لضاع أكثر أوقاته، ولم يتفرغ للعلم والعمل، فالمرأة الصالحة عون على الدين بهذه الطريقة، إذ اختلال هذه الأسباب شواغل للقلب‏.

Salah satu keuntungan nikah adalah melonggarkan hati dari beban domestik rumah tangga berupa kesibukan memasak, menyapu, menata perabot, mencuci piring, dan persiapan sehari-hari yang lain. Karena seseorang akan kesulitan melakukan semuanya sendirian. Seandainya dia melakukan semuanya sendirian, tentunya hal itu akan menyia-nyiakan banyak waktunya sehingga tidak lagi sempat untuk menambah ilmu dan amal. Oleh karenanya, istri salihah menolong agama suaminya dengan cara ini, karena semua hal di atas menyibukkan hatinya.” (Syaikh Ibnu Qudamah, Mukhtasar Minhajul Qashidin, [Damaskus: Maktabah Darul Bayan, 1398 H/1978 M.], halaman 76).

Kalau dipotong di sini saja, akan membawa pemahaman seolah-olah istri salihah adalah yang mengerjakan urusan domestik sebagai pembantu. Dan yang bertambah ilmu dan beramal sosial biar suami saja. Benarkah cuma segitu perempuan seharusnya?

Mari kita baca preambul atau pembukaan kitab ini,

أما بعد : فَالْخُلُقُ الْحَسَنُ صِفَةُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، وَأَفْضَلُ أَعْمَالِ الصِّدِّيقِينَ، وَهُوَ عَلَى التَّحْقِيقِ شَطْرُ الدِّينِ، وَثَمَرَةُ مُجَاهَدَةِ الْمُتَّقِينَ، وَرِيَاضَةُ الْمُتَعَبِّدِينَ. وَالْأَخْلَاقُ السَّيِّئَةُ هِيَ السُّمُومُ الْقَاتِلَةُ، وَالْمَخَازِي الْفَاضِحَةُ، وَالرَّذَائِلُ الْوَاضِحَةُ، وَالْخَبَائِثُ الْمُبْعِدَةُ عَنْ جِوَارِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْمُنْخَرِطَةُ بِصَاحِبِهَا فِي سِلْكِ الشَّيَاطِينِ، وَهِيَ الْأَبْوَابُ الْمَفْتُوحَةُ إِلَى نَارِ اللَّهِ الْمُوقَدَةِ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ، كَمَا أَنَّ الْأَخْلَاقَ الْجَمِيلَةَ هِيَ الْأَبْوَابُ الْمَفْتُوحَةُ مِنَ الْقَلْبِ إِلَى نَعِيمِ الْجِنَانِ، وَجِوَارِ الرَّحْمَنِ. وَالْأَخْلَاقُ الْخَبِيثَةُ أَمْرَاضُ الْقُلُوبِ وَأَسْقَامُ النُّفُوسِ، إِلَّا أَنَّهُ مَرَضٌ يُفَوِّتُ حَيَاةَ الْأَبَدِ، وَأَيْنَ مِنْهُ الْمَرَضُ الَّذِي لَا يُفَوِّتُ إِلَّا حَيَاةَ الْجَسَدِ، وَمَهْمَا اشْتَدَّتْ عِنَايَةُ الْأَطِبَّاءِ بِضَبْطِ قَوَانِينِ الْعِلَاجِ لِلْأَبْدَانِ وَلَيْسَ فِي مَرَضِهَا إِلَّا فَوْتُ الْحَيَاةِ الْفَانِيَةِ، فَالْعِنَايَةُ بِضَبْطِ قَوَانِينِ الْعِلَاجِ لِأَمْرَاضِ الْقُلُوبِ فِي مَرَضِهَا وَفَوْتِ حَيَاةٍ بَاقِيَةٍ أَوْلَى، وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الطِّبِّ وَاجِبٌ تَعَلُّمُهُ عَلَى كُلِّ ذِي لُبٍّ، إِذْ لَا يَخْلُو قَلْبٌ مِنَ الْقُلُوبِ عَنْ أَسْقَامٍ لَوْ أُهْمِلَتْ تَرَاكَمَتْ وَتَرَادَفَتِ الْعِلَلُ وَتَظَاهَرَتْ، فَيَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى تَأَنُّقٍ فِي مَعْرِفَةِ عِلَلِهَا وَأَسْبَابِهَا، ثُمَّ إِلَى تَشْمِيرٍ فِي عِلَاجِهَا وَإِصْلَاحِهَا، فَمُعَالَجَتُهَا هُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا} [الشَّمْسِ: 9] وَإِهْمَالُهَا هُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: {وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا} [الشَّمْسِ: 10] وَنَحْنُ نُشِيرُ فِي هَذَا الْكِتَابِ إِلَى جُمَلٍ مِنْ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ وَكَيْفِيَّةِ الْقَوْلِ فِي مُعَالَجَتِهَا بِعَوْنِهِ تَعَالَى. 

(Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, [Bairut: Darul Fikr, tt.], juz 3, halaman 52-53).

Jenis pengobatan (hati dan jiwa) ini wajib dipelajari oleh semua yang memiliki akal. Karena seringkali hati berpenyakit yang jika dibiarkan saja akan terakumulasi dan muncul memengaruhi tindak laku. Oleh karenanya seorang hamba perlu berupaya untuk mengetahui penyakit hati dan sumbernya, lalu berjibaku untuk mengobati dan memulihkannya. Mengobati hati adalah apa yang dimaksud dalam surah Asy-Syams: 9-10.

Keterangan di atas jelas sekali menunjukkan upaya perbaikan dan pertumbuhan spiritual adalah wajib على كل ذي لب, bagi semua orang, tidak hanya pada gender tertentu.

Dan seringkali, perbaikan dan pertumbuhan spiritualitas tidak bisa berlepas diri dari pertumbuhan intelektualitas. Dan karena hukumnya wajib, tanpa mengecualikan seorang perempuan berstatus istri, maka ketersediaan support sistem – dalam hal ini dari suami – tentu juga menjadi wajib hukumnya.

Mencari pelajaran ini selain menjadi kewajiban si perempuan itu sendiri tentu juga menjadi kewajiban suaminya untuk mendukung keberhasilan belajarnya. Hal ini meniscayakan ketersediaan waktu dan guru – dan tidak jarang juga kuota internet melimpah dengan jet speed – agar istri dapat belajar. Tidak boleh hanya berkutat di kasur, dapur, ompol, dan sumur.

Perempuan yang bertumbuh intelektualitas dan spiritualitasnya tentu percaya diri dan berdaya untuk menjadi partner yang mendukung suaminya untuk juga terus bertumbuh.

Jika sepasang suami-istri saling mendukung untuk bertumbuh secara intelektualitas dan spiritualitas maka kans mereka semakin besar untuk memenuhi sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam,

خير الناس انفعهم للناس.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia.” (H.R. Thabarani)

Wallahu a’lam.

Penulis: Ning Dalliya HQ. Pengasuh PP Fasihuddin. Alumnus Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ) Lirboyo; Pengasuh P.P. Fasihuddin, Pasir Putih, Sawangan, Depok.