Islam: Mensyukuri Kemerdekaan

Pilihan

Doa Komplit Nishfu Sya’ban

Dikutip dari Kitab Madza fi Sya'ban Karya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Doa Mashur dan Mujarab بِسْمِ الله ِالرَحْمٰنِ الرَّحِيمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا...

Hukum Menyulut Petasan Ketika Pembacaan Maulid Nabi

Akhir akhir ini marak terjadi dikalangan kita menyulut petasan yang dilakukan  bersamaan dengan pembacaan maulid nabi (mahallul qiyam) Pertanyaan : Bagaimana hukumnya menyulut petasan bersamaan dengan...

Niat, Tata Cara, dan Doa Sholat Tasbih

Keutamaan Sholat Tasbih Sholat sunnah yang satu ini adalah sholat yang memiliki bacaan tasbih yang sangat banyak, melebihi sholat-sholat yang lain. Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan...

KH. Abdul Chalim Leuwimunding: Ulama Pergerakan di Balik Berdirinya NU

Di balik setiap peristiwa-peristiwa penting sejarah, tentu terdapat nama-nama yang melambung. Nama-nama yang kemudian menjadi terkenal dan menjadikan figur-figur tertentu sebagai idola dan panutan...
Ahmad Muntaha AM
PP Imadut Thulabah, Nepak, Mertoyudan Magelang. PP Nurul Hidayah, Pangen Juru Tengah, Purworejo. PP Lirboyo Kota Kediri (2001-2010). Sekretaris PC LBM NU Kota Surabaya (2013-2015 & 2015-2017). Narasumber Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur (2014-sekarang). Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur (2013-sekarang). Pengurus LTN HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo PUSAT) dan Lirboyo Press. Penulis Buku Populer Khazanah Aswaja.

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Tujuh puluh dua (72) tahun Indonesia merdeka dan tetap utuh sebagai bangsa dan Negara. Meski masih terdapat kekurangan dalam berbagai bidang, pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya, namun tidak mengurangi rasa syukur kita sebagai bangsa merdeka.

Rasa syukur ini pula yang dicontohkan oleh The Founding Fathers, para pahlawan dan ulama di masa awal-awal kemerdekaan sebagaimana tercantum secara jelas dalam alenia ketiga Pembukaan UUD ’45:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Baca Juga: Implementasi Resolusi Jihad Di Bidang Pemerintahan, Kedokteran Dan Ekonomi

Penggalan UUD Pembukaan UUD ’45 merekam secara jelas kesadaran para pendahulu bangsa atas nikmat kemerdekaan. Sebab itu, sebagai generasi penerus tentu selayaknya meneladani sikap bijak mereka seiring pesan al-Qur’an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم: 7)

“Dan ketika Tuhan kalian memberi izin (memberi tahu): “Sungguh andaikan kalian bersyukur atas nikmat, niscaya akan Aku tambahkan kepada kalian; dan bila kalian mengingkarinya maka sungguh azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Merujuk Ibrahim bin ‘Umar al-Biqa’ (809-885 H/1406-1480 H), pakar tafsir asal Syiria, maksud nikmat yang disinggung dalam ayat adalah nikmat keamanan yang harus disyukuri agar semakian bertambah aman. Dalam Nazm ad-Durar (IV/172) terang-terangan al-Biqa’i menuturkan:

لَمَّا ذَكَرَهُمْ بِنِعْمَةِ الْأَمْنِ رَغَّبَهُمْ فِيمَا يُزِيدُهُمْ وَرَهَّبَهُمْ مِمَّا يُزِيلُهَا.

“Ketika Allah telah menyebutkan nikmat keamanan kepada bani Israil (kaum Nabi Musa As), maka Allah menganjurkan perbuatan-perbuatan yang dapat menambahkannya dan memperingatkan mereka dari melakukan hal-hal yang dapat menghilangkannya.”

Baca Juga: Santri Garuda

Dari sini menjadi terang, implementasi nyata pengamalan Islam, baik secara personal bagi inividu muslim maupun secara kolektif umat Islam sebagai bagian besar dari elemen bangsa adalah dengan mensyukuri nikmat aman dan kemerdekaan bangsa, melakukan berbagai aktifitas yang kontributif bagi kemajuan masyarakat dan bangsa secara lebih luas sesuai bidangnya.

Karenanya, segala iktikad, ucapan, tulisan, maupun aktifitas anak bangsa yang bertentangan dengan upaya mensyukuri nikmat kemerdekaan bangsa, menanam benih-benih radikalisme, memancing kerusuhan, merusak moral generasi penerus bangsa dan mengganggu stabilitas nasional, terlebih yang dilakukan secara massif dan sistematik, tidak boleh dibiarkan dan harus terus dilawan. Wallahu a’lam.

Baca Juga: 
Islam Nusantara: Konsistensi Menjaga Persatuan untuk Memperkokoh Integritas Bangsa (Bagian 7-Habis)

Sumber Bacaan:
Ibrahim bin ‘Umar al Biqa’i, Nazm ad Durar fi Tanasub al Ayat wa as Suwar, (Bairut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1415 H), IV/172.

More articles

Terbaru

Nafkah wajib istri termasuk kuota internet & make up nih ?

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami...

Yang Benar Wizarah Atau Wazarah ? Bertobatlah

Oleh: Ahmad Muntaha AM Yang benar bacanya gimana ya? Saya sendiri tidak begitu memperhatikan, wizarah, wazarah atau wuzarah. Seringnya...

WNI Gabung ISIS Otomatis Hilang Kewarganegaraan

Oleh: Dr. H. M. Anwar Rachman, S.H., M.H. (Komisi III DPR RI: Bidang Hukum, HAM dan Keamanan, Fraksi PKB)

Keputusan Bahtsul Masail FMP3 XXIV di PP Lirboyo

Hasil Keputusan Bahtsul Masa’il XXIV (FMP3)Forum Musyawaroh Pondok Pesantren Putri se-Jawa TimurDi Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur 6411726-27 Jumadal Ula...

What, Menyakiti Non Muslim Lebih Berat Dosanya?

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagergunung, 29 Desember 2019 Dosa menzalimi non muslim lebih berat resikonya daripada menzalimi seorang...