Islam Menjamin Kebebasan Beragama Bagi Siapapun, Nabi Teladannya

0
364
kebebasan beragama

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Sudah maklum, penyebaran dakwah Islam dilakukan dengan penuh hikmah, mau’izhah, penjelasan dan diskusi yang sehat. Sama sekali tanpa kekerasan dan pemaksaan. Tidak ada sedikitpun sejarah Islam yang merekam tokoh panutan Islam melakukan pemaksaan pada seorang pun untuk masuk Islam. Manusia dunia memeluk agama Islam dengan pilihan hati, kesukarelaan, dan penuh kemerdekaan tanpa intimidasi sedikitpun. Tidak percaya?

Nabi Muhammad Saw pun telah memberikan teladan agung dalam hal ini.

Alkisah, ada seorang golongan kaum Anshor dari klan Bani Salim bin Auf punya dua anak yang kebetulan telah beragama Nasrani semenjak Nabi Muhammad Saw belum diutus menjadi rasul. Kemudian saat Nabi Saw sudah hijrah ke Madinah, dua orang itu datang ke sana bersama rombongan dagang kaum Nasrani. Ayahnya pun langsung mendatangi dan memaksanya untuk meninggalkan agamanya dan memeluk agama Islam.

“Demi Allah tidak akan Ku tinggalkan kalian sehingga mau masuk Islam”, tegasnya.

Namun keduanya menolak perintah ayahnya dan meminta keputusan kepada Nabi Muhammad Saw.

“Wahai Rasulullah, adakah Aku melihat anakku masuk neraka sementara aku melihatnya?”, kata Sang Ayah.

Seketika itu, turunlah wahyu dari Allah Swt yang melarang pemaksaan agama oleh siapapun:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. (البقرة: ٢٥٦)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Saat itu, Nabi Muhammad Saw pun tidak memaksa kedua orang Nasrani itu untuk masuk Islam.

Dalam konteks inilah Ulama Ahlussunah wal Jama’ah asal Damaskus Suriah, Syekh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili (1932-2015), menafsirkan:

أي أن الإكراه في الدين ممنوع، ولا جبر ولا إلجاء على الدخول في الإسلام. ولا يصح الإلجاء والقهر بعد أن بانت الأدلة والآيات الواضحة الدالة على صدق محمد صلى الله عليه وسلم في ما يبلغه من ربه. فمن شاء فليؤمن، فمن شاء فليكفر. فقول العوام وإمثالهم من المستشرقين: أن الإسلام قام بالسيف، دعوى باطلة غير صحيحة ولا ثابتة.

“Maksud ayat 256 surat al-Baqarah adalah sungguh pemaksaan dalam agama itu dilarang. Tidak boleh ada pemaksaan dan intimidasi kepada siapapun untuk masuk Islam. Tidak boleh ada intimidasi dan pemaksaan setelah jelasnya berbagai dalil dan ayat yang menunjukkan kebenaran atas risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw dari Tuhannya. Karenanya, siapapun yang menghendaki beriman, maka ia merdeka untuk beriman; dan siapapun yang menghendaki untuk mengufurinya, maka ia merdeka untuk mengufurinya. Dari sini diketahui, bahwa asumsi orang awam, kaum orientalis dan semisalnya yang menyatakan bahwa Islam disebarkan dengan pedang kekerasan, maka merupakan dakwaan yang batil, tidak sahih dan tidak tepat sama sekali.”

Lalu peperangan yang banyak terjadi pada zaman Nabi Saw itu bagaimana?

Ulama pakar tafsir, fikih dan ushul fikih bermazhab Syafi’i itu menjelaskan, sebenarnya yang terjadi adalah bahwa peperangan di zaman itu adalah peperangan defensif agar kaum musyrikin tidak menggangu dan membuat fitnah terhadap kaum muslimin dan membiarkan manusia merdeka dalam pilihan agamanya. Sehingga at-ta’ayus ad-dini as-silmi kehidupan beragama yang penuh kedamaian antara kaum muslimin dan umat beragama lainnya dapat berjalan dengan baik dan penuh kerukunan.

أما حروب المسلمين فكانت دافعة حتى يكف المشركون عن فتنة المسلمين، وتركوا الناس أحرارا، ولا مانع من وجود ما يسمى بالتعايش الديني السلمي بين الإسلام وأهله وغيره من أهل الأديان.

“Sementara itu, peperangan yang dilakukan kaum muslimin adalah perang defensif agar kaum musyrikin tidak menggangu kaum muslimin dan membiarkan manusia merdeka (dalam pilihan agamanya); dan tidak ada faktor pencegah bagi wujudnya kehidupan beragama yang damai antara pemeluk agama Islam dan pemeluk agama lainnya.”

Nah, bila demikian teladan Nabi Muhammad Saw dalam menjaga kerukunan bersama pemeluk agama lain, bagaimana dengan kita? Masihkah kita meneladaninya; atau justru menebar kebencian, mempersekusi dan mengintimidasi penganut agama lain yang kebetulan bertetangga, bermitra, dan satu bangsa dengan kita?

Sumber:
Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Wasith, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir dan Dar al-Fikr, 1422 H/2001 M), cet. 1, I/148-149.

Ilustrasi: freepik