Ini Lima Sifat Nabi yang Dipuji Allah dalam Alquran

0
254
lafadz

Nabi Muhammad Saw. merupakan nabi akhir zaman yang menempati posisi ahsanan nas kholqon wa khuluqon (manusia terbaik fisik dan budi pekertinya). Saking baiknya, sampai Imam Busyiriy menggubah syair:

فانسب الى ذاته ما شئت من شرف * وانسب الى قدره ما شئت من عظم 

فإن فضــــل رســول الله لـــــيس له * حـــد فيـــعرب عــــنه نــاطـق  بفم

Sematkan pada dirinya kebaikan-kebaikan yang kau kehendaki, dan lekatkan derajatnya pada keagungan-keagungan yang kau ingin.

Sebab, sesungggunya keutamaan Rasulullah SAW tiada batas, yang orang mampu menyingkapnya dengan kata-kata” (Imam Busyiriy, Qosidah Burdah, [Semarang: Binawan], hal. 496.)

Beliau diutus oleh Allah Swt. salah satu tujuannya adalah menjadi uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), sehingga kita selaku umatnya bagaimana akan meniru beliau jika tidak mengetahui sifat dan karaktek beliau?

Nah, didalam Q.S. at-Taubah ayat 128 disampaikan beberapa sifat Nabi Saw:

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Imam Fakhrudin Ar-Roziy di dalam kitab tafsir Mafatihul Ghoib/Tafsir Kabir menggaris bawahi ada lima sifat Nabi Saw di dalam ayat tersebut.

Pertama, frasa “ مِنْ أَنْفُسِكُمْ “ menunjukkan karakter Nabi Saw adalah dari golongan manusia, bukan malaikat. Serta menunjukkan bahwa Nabi Saw adalah dari klan arab, yang masih termasuk penduduk tanah haram. Ada juga mufassir yang mengampil kesimpulan dari frasa tersebut, bahwa silsilah nasab Nabi Saw adalah silsilah nasab yang suci/terhindar dari perbuatan zina dan kekufuran, mulai dari ayahnya sampai Nabi Adam As. 

Kedua, sifat Nabi Saw disampaikan pada “عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ”. Makna ‘عَزِيزٌ’ secara apa adanya berarti ‘terasa berat’. Maksudnya, Nabi Saw merasa susah, merasa prihatin jika melihat umatnya ada yang sedang susah atau menderita. 

وَالْمَعْنَى: عَزِيزٌ عَلَيْهِ عَنَتُكُمْ، أَيْ يَشُقُّ عَلَيْهِ مَكْرُوهُكُمْ، وَأَوْلَى الْمَكَارِهِ بِالدَّفْعِ مَكْرُوهُ عِقَابِ اللَّهِ تَعَالَى، وَهُوَ إِنَّمَا أُرْسِلَ لِيَدْفَعَ هَذَا الْمَكْرُوهَ.

Artinya : “Makna ‘berat terasa olehnya penderitaanmu’ yaitu beliau merasakan susahnya sesuatu yang menimpamu (yang tidak kamu sukai), dan sesuatu yang paling tidak disukai ,agar terhindar, adalah siksa Allah Swt, beliau diutus guna mengghindarkan hal itu.” (Imam Fakhrudin Ar-Roziy, Mafatihul Ghoib [Maktabah Syamilah, tth.], vol. XVI, hal. 178.)

Ketiga, frasa ‘حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ’ menunjukkan karakter Nabi Saw, yaitu Nabi Saw sangat ingin sekali umatnya mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.

بَلِ الْمُرَادُ حَرِيصٌ عَلَى إِيصَالِ الْخَيْرَاتِ إِلَيْكُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Artinya : “Jutsru yang dikehendaki adalah sangat menginginkan menyampaikan kebaikan kepada kalian semua di dunia dan akhirat.” (Imam Fakhrudin Ar-Roziy, Mafatihul Ghoib [Maktabah Syamilah, tth.] vol. XVI, hal. 178.)

Keempat, dan Kelima yaitu ‘رَؤُفٌ رَحِيمٌ ‘. Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy menjelaskan perbedaan makna dari kedua lafadz tersebut, bahwa ‘رَؤُفٌ’ bermakna lebih khusus yaitu ‘kasih sayang terhadap orang yang lemah’, sedangkan ‘رَحِيمٌ’ berarti ‘kasih sayang terhadap siapapun, baik yang lemah maupun tidak’. (Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy, Tafsir Munir, [Maktabah Syamilah, tth.] Vol. XI, hal. 88.)

Namun ada juga mufassir yang mempunyai interpretasi lain, sebagaimana dikutip oleh Imam Baghowiy, yang menjelaskan makna ‘رَؤُفٌ’ berarti ‘kasih sayang Nabi Saw terhadap orang yang taat beribadah’, sedangkan ‘رَحِيمٌ’ berarti ‘kasih sayang Nabi Saw terhadap para pelaku dosa’. (Imam Baghowiy, Tafsir baghowiy [Maktabah Syamilah, tth.], vol II, hal. 408.)

Itulah lima sifat Nabi Muhammad Saw yang terdapat pada surat at-Taubah ayat 128. Semoga kita dapat meneladani sifat dan akhlak beliau. Sholluu ‘alan Nabi.

Wallahu a’lam.

*Penulis: Amin Ma’ruf, P.P. Al-Iman Bulus Purworejo, Mahasiswa Tafsir Pascasarjana UNSIQ Wonosobo.