Imam Mawardi: Tak Ada Alasan Untuk Tidak Mencari Ilmu

0
184

Ada beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan dan keengganan seseorang untuk mencari ilmu. Baik itu usia yang tidak lagi muda, kesibukan mencari nafkah, atau merasa tidak cerdas.

Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Bashri as-Syafi’i, yang lebih dikenal dengan al-Mawardi menolak alasan-alasan itu. Beliau menjelaskan bahwa sebenarnya tiga hal itu tidaklah dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan mencari ilmu sama sekali.

Aku Sudah Tua. Malu.

Imam al-Mawardi menyesalkan prilaku orang-orang yang enggan mencari ilmu. Apalagi jika beralasan usia yang sudah tidak muda.

وَرُبَّمَا امْتَنَعَ الْإِنْسَانُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ لِكِبَرِ سِنِّهِ وَاسْتِحْيَائِهِ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي صِغَرِهِ أَنْ يَتَعَلَّمَ فِي كِبْرِهِ، فَرَضِيَ بِالْجَهْلِ أَنْ يَكُونَ مَوْسُومًا بِهِ وَآثَرَهُ عَلَى الْعِلْمِ أَنْ يَصِيرَ مُبْتَدِئًا بِهِ..

“Kadang orang enggan mencari ilmu karena ia merasa usianya tidak lagi muda. Ia juga malu karena sewaktu kecil sembrono. Ia pikir mencari ilmu nanti saja kalau sudah besar. Keengganan belajar sewaktu kecil ini membuatnya mau saja jadi orang bodoh. Hal ini menjadikannya masih saja pemula ketika sudah dewasa.”

Bagi Imam al-Mawardi, alasan ini hanyalah bentuk tipu daya rasa malasnya saja. Ilmu adalah keunggulan, ujar beliau. Sebuah keutamaan tersendiri bagi para pencarinya. Karena ilmu adalah keunggulan, keutamaan, maka semakin dewasa usia seseorang, tentu rasa senang akan keunggulan itu semakin besar.

Dan memulai sesuatu yang unggul adalah keunggulan tersendiri. Maka sudah semestinya bahwa orang tua yang mencari ilmu lebih baik daripada orang tua yang bodoh.

Baca juga Panduan Memilih Fokus Keilmuan

Aku nggak Sempat. Sibuk.

Kadang orang terhambat untuk mencari ilmu karena keterbatasan kesempatan dan kesibukannya dalam mencari nafkah penghidupan.

Boleh jadi ini adalah alasan yang paling kuat di antara banyak alasan lainnya. Tetapi jika kita pikirkan benar-benar, sebetulnya amat jarang orang yang sama sekali tidak sempat mencari ilmu. Jikapun ada, tentu mereka adalah orang-orang yang terlalu ambisius akan kehidupan dunia. Mereka lebih ingin mendapatkan kebahagiaan dunia daripada kesejahteraan yang lebih abadi. Yakni ilmu itu sendiri.

Maka betapapun sibuknya seseorang, sepatutnya ia tetap meluangkan waktu untuk mencari ilmu. Karena tidaklah mungkin seluruh waktu digunakan untuk bekerja. Pekerja pasti punya waktu rehat dan hari libur.

Ada sebuah hadis Rasulullah Saw. yang dikutip oleh Imam al-Mawardi

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ :لِكُلِّ شَيْءٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إلَى الْعِلْمِ فَقَدْ نَجَا

“Nabi bersabda: ‘Segala sesuatu tentu memiliki jeda. Orang yang menggunakan waktu jedanya untuk mencari ilmu pastilah orang yang beruntung.’”

Otakku Terlalu Kentang untuk Mencari Ilmu

Kadang pula, orang-orang enggan mencari ilmu karena menyangka ilmu itu sulit dan tidak ada habisnya. Apalagi, menurut mereka, otak yang mereka punya tidak cerdas. Tak akan mampu menguasai ilmu.

Menurut Imam al-Mawardi, sangkaan semacam ini hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh pengecut. Rasa khawatir dan takut sebelum mencoba adalah kelemahan seorang pengecut.

Rasa khawatir yang berlebih hanya akan menjadi penghalang bagi mereka untuk menjadi orang yang beruntung. Beliau mengutip ungkapan seorang sastrawan,

لَا تَكُونَنَّ لِلْأُمُورِ هَيُوبًا فَإِلَى خَيْبَةٍ يَصِيرُ الْهَيُوبُ

“Janganlah khawatir akan segala sesuatu. Muara kekhawatiran hanyalah kerugian.”

Seseorang berkata pada sahabat Abi Hurairah r.a. “Aku ingin mencari ilmu, tapi aku khawatir akan menyia-nyiakannya.” Abu Hurairah r.a. menyanggah perkataan seseorang itu. “Meninggalkan upaya mencari ilmu itu sudah cukup disebut menyia-nyiakan ilmu.”

Boleh jadi tingkat ketajaman logika dan kecerdasan tiap orang berbeda-beda. Tetapi menggunakannya sebagai alasan untuk tidak mempelajari ilmu adalah suatu keburukan. Tidak selayaknya mereka berputus asa untuk mendapatkan ilmu. Meski ilmu yang mereka dapat hanya sedikit, itu bisa mengentaskan mereka dari ambang batas kebodohan.

Baca juga: 33 Tahun Mondok ‘hanya’ dapat 8 Ilmu?

Dari penjelasan Imam al-Mawardi di atas, bisa kita ambil pelajaran bahwa tidak ada satu pun alasan yang legal untuk meninggalkan pencarian ilmu.

Apalagi kita hidup di zaman serba mudah sekarang. Mengakses informasi semudah menggeserkan jari. Hanya tinggal kemauan membaca dan menyimak ilmu yang tiap hari harus diupayakan dan ditingkatkan.

Wallahu a’lam.