Imam Asy Syafi’i : Pengelana Ilmu dari Gaza

Pilihan

Fikih Kebencanaan Perspektif NU (bag-1)

PENDAHULUAN Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor. ...

Bolehkah Membatalkan Sholat Karena HP Berdering ?

Sering kali saat ke masjid kita menemukan instruksi untuk mematikan HP “HP HARAP DIMATIKAN”. Sebut saja pak Jono, seorang kuli yang rajin...

Pilihan Mendalami Agama atau Berdakwah

Galau, bingung dan penuh dilematis, mungkin inilah yang dirasakan kang Sholeh santri Ibtidaiyyah yang baru saja memulai petualangan mempelajari ilmu agama khas...

Beliau adalah: Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn al-abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn as-Sa’ib ibn Ubaid ibn abd Yazid ibn Hasyim ibn Abd Muthallib ibn abd Manaf.

Lahir pada tahun 150 H. Di tanah Ghuzah, sebuah wilayah di Asqalan yang letaknya dekat pantai Lautan Putih (Laut Mati) sebelah tengah Palestina (Syam), dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.

Berasal Dari Keluarga Miskin

Beliau datang ke kota Makkah ketika masih kecil, dan beliau hidup dalam asuhan ibunya dalam kondisi yatim dan fakir, sampai-sampai ibunya sama sekali tidak mempunyai harta-benda untuk diberikan pada seorang guru. Beliau hafal al-Qur’an ketika berusia tujuh tahun, dan mengaji pada imam Ismail ibn Qasthanthin yang ketika itu menjadi guru besar para penduduk Makkah; diantaranya imam Sufyan ibn Uyainah yang menjadi imam para ahli hadits, imam Muslim ibn Khalid az-Zanjiy ahli fikih kota Makkah, imam Sa’id ibn Salim al-Qaddah, Daud ibn Abdurrahman al-Aththar, dan imam Abd al-Majid ibn Abd al-Aziz ibn Abi Daud. Beliau belum sempat melakukan perjalanan belajar kepada imam al-Laits ibn Sa’d yang berdomisili di Mesir.

Kemudian beliau berangkat ke kota Madinah untuk menuntut ilmu dari para ulama Madinah, waktu itu beliau masih berusia tiga belas tahun. Di usia semuda ini beliau sudah menghafal di luar kepala kitab Muwatha’ karya imam Malik. Dan keberangkatan beliau kali ini bermaksud hendak berguru dan meminta hafalannya disimak langsung oleh imam Malik sendiri. Pada awalnya imam Malik tidak begitu memperhatikan imam asy-Syafii karena usia beliau yang masih kecil, hingga imam Malik menyuruh orang lain untuk menyimak hafalannya. Namun ketika pada suatu saat imam Malik mendengar bacaan imam asy-Syafii, imam malik sanat kagum akan kefasihan dan keindahan bacaannya. Dan semenjak itulah beliau akhirnya bersama imam Malik, tepatnya pada tahun 169 H. Sampai akhirnya imam Malik wafat pada tahun 179 H.

Ketika di madinah beliau juga menuntut ilmu pada imam Ibrahim ibn Sa’d al-Anshari, Abd al-Aziz ibn Muhammad ad-Darawardi, Ibrhim ibn Abi Yahya al-Aslami, Muhammad ibn Sa’id ibn Abi Fudaik, dan Abdullah ibn Nafi’ Ash-Shaigh, santri imam ibn Abi Dza’b.

Belajar Pada Banyak Ulama

Pertama kali beliau belajar pada ulama Baghdad yaitu pada tahun 184 H. Beliau lebih banyak belajar pada al-Imam Muhammad ibn al- Hasan, santri imam Abi Hanifah. Dari imam Muhammad inilah kemudian imam asy-Syafi’i mempelajari semua karya tulis imam Muhammad dan mendalami secara matang madzhab Hanafiyah.

Ketika di Baghdad beliau juga belajar pada imam Waki’  ibn al-Jarrah, abd al-Wahhab ibn abd al-Majid ats-Tsaqafi, Abu Usamah hammad ibn Usamah al-Kufi, dan Ismail ibn Ilyah, mereka berempat termasuk para penghafal (huffadz) hadits nabi.

Imam asy-Syafii bertempat di Baghdad beberapa tahun, kemudian beliau kembali ke kota Makkah untu membangun kembali majlis ta’lim yang telah dirintisnya di Makkah.

Sekitar tahun 195 H beliau kembali lagi ke Baghdad. Pada waktu itu beliau berusia 45 tahun. Pada waktu itu beliau sudah menjadi mujtahid dengan metodologi ijtihad mencapai taraf sempurna serta madzhab yang memiliki corak tersendiri.

Pada perjalanan yang kedua kalinya ini beliau memberikan pengaruh yang nyata dalam dunia keilmuan di kota Baghdad. Setelah itu beliau kembali lagi ke Makkah, dan pada tahun 198 H kembali ke Baghdad untuk terakhir kalinya. Dan setelah menetap beberapa buan saja, beliau kemudian memantapkan keinginannya untuk pergi ke Mesir.

Memiliki Banyak Murid

Imam asy-Syafi’i meninggalkan Baghdad setelah madzhabnya menyebar luas di kota itu. Beliau meninggalkan para pengikutnya, hingga pada akhirnya merekalah yang meneruskan penyebaran madzhab asy-Syafi’i dan mengarang kitab-kitab madzhab asy-Syafii. Selanjutnya di kota Baghdad mereka memiliki pusat kajian madzhab asy-Syafi’i tersendiri yang kemudian dikenal dengan nama “Thariqah Iraqiyyin”.

Imam asy-Syafi’i telah banyak mengetahui keadaan kota Mesir, jauh hari sebelum sampai di sana. Kondisi tersebut beliau ketahui dari rabi’. Sebelum beliau berangkat, Rabi’ menginformasikan bahwa penduduk Mesir terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok condong ke madzhab Maliki serta berusaha mempertahankannya, dan kelompok yang lain condong mempertahankan madzhab Hanafi.

Sehubungan dengan hal di atas, imam asy-Syafii pernah berkata: “Aku berharap bisa pergi ke Mesir bila Allah menghendaki, dan aku akan membawa sesuatu yang menyibukkan mereka dari kedua madzhab itu”. Pada akhirnya apa yang beliau katakan menjadi kenyataan. Beliau sangat cinta pada para pengikutnya, dermawan terhadap mereka, selalu memenuhi kebutuhan serta menolong mereka.

Baca Juga: Seri Artikel Biografi Ulama

Imam asy-Syafii menjad guru bagi banyak orang. Memiliki banyak murid di Baghdad, di Mesir bahkan juga di daerah Khurasan. Beliau menulis lebih dari 30 judul kitab. Mayoritas karya-karya beliau bisa kita nikmati dalam bentuk cetakan, meskipun sebagian karya beliau ada yang belum ditemukan sampai saat ini.


Sumber: Tim Pembukuan Purna Siswa MHM Lirboyo 2011, Jendela Madzhab, h. 1-3 (Kediri: Lirboyo Press, 2011).

More articles

Terbaru

Doa Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Sholat Tahajud memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan. Tentunya akan semakin memperkuat semua niat dan tujuan kita...

Niat Sholat Tahajud dan Keutamaannya

Sholat Tahajud atau yang biasa kita kenal dengan Sholat malam merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan, lazimnya dilaksanakan di sepertiga...

Sayyid Gus Dur Dan Sayyid Millennial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagergunung, 27 Desember 2019 Gus Dur itu Sayyid. Sayyid sejati. Sebab yang berhak mengenakan gelar sayyid...

Gus Dur, Al-Muhallab Dan Dedikasi Generasi Milenial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagi dingin di Pagergunung, 28 Desember 2019 Ini sedang baca-baca karya al Muhallab : al Mukhtashar...

Nafkah wajib istri termasuk kuota internet & make up nih ?

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami...