Ikhlas Karena Allah Ta’ala (Hikam-41)

97

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Seberapa banyak shalat kita sejak dari usia baligh hingga sekarang? Seberapa banyak sedekah kita? Sebarapa banyak amal shaleh lainnya? Apakah semuanya sudah ikhlas karena Allah Ta’ala, atau karena iming-iming surga dan ancaman neraka? Atau bahkan karena motif-motif duniawi yang lebih rendah? Agar tenang hidupnya, agar mendapat predikat sebagai orang shaleh di tengah komunitasnya atau motif duniawi lainnya?

Bila demikian, apakah kita sudah beribadah dengan ikhlas karena Allah Ta’ala? Atau justru jalan di tempat, beribadah hanya untuk keuntungan pribadi kita, bukan murni menyembah dan menghambakan diri kepada Allah Ta’ala? Syaikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari memberi nasehat:

لَا تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ فَتَكُونَ كَحِمَارِ الرَّحَى يَسِيرُ. وَالَّذِي ارْتَحَلَ إِلَيْهِ هُوَ الَّذِي ارْتَحَلَ مِنْهُ. وَلَكِنِ ارْحَلْ مِنَ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ. وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (النجم: 42)

“Janganlah berjalan dari makhluk menuju makhluk lainnya, sehingga seperti jalannya himar hewan pemutar alat penggiling biji-bijian (berputar-putar di tempatnya saja). Tempat yang ditujunya adalah tempat asal perjalanannya. Namun berjalanlah dari makhluk menuju keridhaan Tuhan. [Allah berfirman, al-an-Najm 42]: ‘Dan sungguh hanya kepada Tuhanmu tempat kembali’.”

وَانْظُرْ إِلَى قَوْلِهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهَ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (متفق عليه). فَافْهَمْ قَوْلَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامَ وَتَأَمَّلْ هَذَا الْأَمْرَ إِنْ كُنْتَ ذَا فَهْمٍ. وَالسَّلَامُ.

“Lihatlah sabda Nabi—shallalahu ‘alaihi wa sallam—: ‘Maka orang yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; dan orang yang hijrahnya pada (karena) dunia yang hendak ia peroleh atau perempuan yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya pada apa yang ditujunya.’ [Muttafaq ‘Alaih]. Maka pahamilah sabda Nabi—shallalahu ‘alaihi wa sallam—dan renungkanlah hal ini jika Anda punya pemahaman. Wassalam.”

Ikhlas Karena Allah Ta’ala

Dalam kalam hikam-41 ini Syaikh Ibn ‘Athaillah mengingatkan, bahwa amal shaleh, apapun bentuknya selama tidak didasari ikhlas karena Allah Ta’ala maka tercela menurut syariat.

Amal shaleh yang dibarengi dengan riya’, pamer terhadap orang lain dan semisalnya jelas-jelas tercela. Begitu pula amal shaleh disertai tujuan mencapai derajat agung di sisi Allah, selamat dari neraka, agar masuk ke surga dan semisalnya, menurut ‘Arifin, orang-orang yang ma’rifah billah juga masih tercela, karena keduanya sama-sama beramal karena makhluk dan pelakunya layak disebut sebagai hamba makhluk yang menjadi tujuannya. Sehingga ia hanya berputar-putar dalam perjalanan batiniahnya dari makhluk menuju makhluk lainnya, seperti hewan himar yang berputar-putar di tempatnya menjalankan alat penggiling biji-bijian.

Semangat al-Qur’an dan Hadits

Yang terpuji adalah beramal dengan penuh kesadaran sebagai hamba Allah dan bertujuan memperoleh ridha-Nya saja. Bila demikian adanya, maka pelakunya benar-benar telah ikhlas karena Allah Ta’ala sesuai semangat al-Qur’an dan hadits:

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (النجم: 42)

“Dan sungguh hanya kepada Tuhanmu tempat kembali.” (QS. al-an-Najm: 42)

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (متفق عليه).

“Sungguh berbagai amal hanya tergantung niatnya dan orang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya. Karena itu orang yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; dan orang yang hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya pada apa yang ditujunya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Baca Juga: Gelap Hati (Hikam-40)

Ikhlas Karena Allah Ta’ala Khas Ulama Sufi

Adalah Abu Sulaiman ad-Darani (w. 215 H/830 M) tokoh sufi ternama asal negeri Syam menyampaikan urgensi ikhlas karena Allah Ta’ala dalam ungkapannya:

لَوْ خُيِّرْتُ رَكْعَتَيْنِ وَدُخُولِ الْفِرْدَوْسِ لَاخْتَرْتُ رَكْعَتَيْنِ. لِأَنَّ فِي الْفِرْدَوْسِ بِحَظِّي وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ بِرَبِّي.

“Andikan aku diminta memilih shalat dua rakaat dan masuk surga Firdaus, niscaya aku pilih shalat dua rakaat. Sebab dalam memilih surge Firdaus terdapat keuntungan bagiku, dan dalam memilih shalat dua rakaat terdapat kepatuhan terhadap Tuhanku.”

Hikmah Utama

Dari sini menjadi jelas, bahwa ikhlas karena Allah Ta’ala dalam amal shaleh, shalat, puasa, haji; maupun amal sosial seperti membantu orang yang membutuhkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan selainnya, berarti melakukan semua amal shaleh hanya karena meraih ridha Allah Ta’ala. Bukan agar masuk surga dan terhindar dari neraka, apalagi karena pamrih duniawi dan pamer terhadap sesama. Wallahu a’lam.

Baca: Seri Artikel Kajian Hikam

Sumber:

  1. Ibn ‘Abbad an-Nafazi ar-Randi, Syarh al-Hikam, (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tth.), 36-37.
  2. Abdullah bin Hijazi al-Khalwati as-Syarqawi, Syarh al-Hikam as-Syarqawi pada Syarh al-Hikam, 36.
  3. Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M), XVII/115.

Ilustrasi: pinterest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here