Hikmah Pergaulan (Hikam-32)

155

Oleh: Ahmad Muntaha

Dalam untaian kalam Hikam-32 ini Syaikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari mulai mengulas upaya-upaya membersihkan hati dari akhlak buruk dan menghiasinya dengan akhlak-akhlak indah. Beliau ujarkan:

تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا بَطَنَ فِيكَ مِنَ الْعُيُوبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّفِكَ إِلَى مَا حُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْغُيُوبِ.

“Perhatianmu pada berbagai kekurangan yang samar tersembuyi di hatimu lebih baik daripada perhatianmu pada hal-hal gaib (kekeramatan) yang terhalangi darimu.”

Syaikh Abdul Majid as-Syarnubi (w. 1348 H/1929 M), ulama bermazhab Maliki yang juga menguasai berbagai disiplin ilmu asal Syarnub, wilayah Bahira Mesir, dalam Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah (42-43) menjelaskan, maksud dawuh Syaikh Ibn ‘Athaillah tersebut adalah perhatian manusia dengan mata hatinya terhadap berbagai kekurangan dan penyakit hati, seperti sombong, dendam, bangga diri, pamer, senang dengan popularitas, suka menjilat orang lain (mencari sanjungan), cinta kepemimpingan dan pangkat derajat dan semisalnya yang tersimpan rapat di hatinya, sehingga ketertarikan, minat dan tekad bulat hatinya adalah berupaya menghilangkannya dengan riyadhah dan mujahadah (laku batin) di bawah bimbingan guru yang ‘arif billah (makrifat), lebih baik daripada perhatiannya terhadap rahasia-rahasia ilahi dan berbagai karamah (kekeramatan).

Mengapa demikian? Tiada lain karena (1) inilah yang menjadi bagian tugas dirinya yang wajib dilakukan demi memperoleh ridha Tuhannya. Sebab nafsu manusia sering menginginkan karamah, sementara Tuhan memerintahnya untuk ajeg dan istiqamah menghamba kepada-Nya. Selain itu juga karena (2) memenuhi hak Tuhannya lebih utama daripada memenuhi hak dirinya sendiri.  

Baca Juga: Mengenal Allah, antara Wali dan Orang Awam (Hikam-29)

Inilah hikmah yang menjadi pedoman utama para sufi dalam menempuh perjalanan spiritual menggapai ridha Ilahi.

Hendaknya, kita sebagai orang awam pun berupaya semaksimal mungkin menghilangkan atau meminimalisir akhlak-akhlak buruk secara serius dan berkesinambungan.

Empat (4) Cara Mengetahui Kekurangan Diri Sendiri

Lalu bagaimana cara manusia mengetahui kekurangan diri sendiri terutama? Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din (III/64-65) tepatnya pada bagian Kitab Riyadh an-Nafs menjelaskan, ada empat cara manusia untuk mengetahui kekurangan dirinya:

(1) Berguru kepada Mursyid yang paham betul aib-aib dan keparahan hatinya dan mengikuti bimbingannya. Namun menurutnya pada zamannya guru yang sempurna seperti ini sudah sangat langka. Apalagi sekarang?

(2) Berteman dengan orang yang benar-benar jujur yang dapat menjadi pengawas kondisi dan amal perbuatannya, yang mampu memperingatkannya dari kesalahan dan kehinaan yang tidak terasa olehnya. Dalam konteks ini Sayyidina ‘Umar—radhiyallahu ‘anhu—berkata:

رَحِمَ الله امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي.

“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”

(3) Mengetahui berbagai kekurangan diri dari orang-orang yang tidak menyenanginya. Sebab pasti kekurangan-kekurangan dan berbagai aibnya akan keluar dari mulut mereka.

(4) Mengetahuinya dari pergaulan di antara sesama, seiring sabda Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wasallam—:

اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ اَلْمُؤْمِنِ. (رواه أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ)

“Orang mukmin menjadi cerminan bagi mukmin lainnya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)

Baja Juga: Semakin Syukur Semakin Makmur (Hikam-30)

Ketika melihat kekurangan-kekurangan orang lain, hendaknya ia merasa kekurangan itu juga ada padanya, sebab tabiat manusia pada dasarnya sama. Bahkan kalau jujur terkadang ia melihat kekurangan dirinya sendiri lebih besar dan lebih parah daripada kekurangan orang lain yang dilihatnya. Sehingga dalam kondisi seperti ini ia paksa dirinya untuk membersihkan diri darinya.

Di akhir penjelasan Imam al-Ghazali menegaskan:

“Cara-cara (ketiga terakhir) ini adalah cara bagi orang yang tidak menemukan seorang guru yang ‘arif billah, yang mengetahui penyakit-penyakit hatinya, yang penuh kasih sanyang dan mengharap kebaikan agama, yang telah selesai secara paripurna membersihkan hatinya sendiri dan konsentrasi memmbersihkan hati orang lain dan mengharap kebaikan bagi mereka.”

Baca Juga: Tak Lelah Ibadah, Tak Henti Mengupdate Hati (Hikam-31)

Karena itu, yuk kita manfaatkan pergaulan sebaik-baiknya. Mencari teman yang mau memperingatkan kesalahan-kesalahan kita, menerima kritik dan mengambil pelajaran dari berbagai celaan, serya memaklumi kesalahan orang lain sembari menjadikannya sebagai cerminan diri. Karenanya, pergaulan itu penuh hikmah bukan?

__________

Sumber:

  1. Abdul Majid as-Syarnubi, Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah, 42.
  2. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, tth.), III/64-65.
  3. Ilustrasi : tipsperawatancantik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here