Hal-Hal yang Tidak Boleh Dilakukan jika Ingin Sukses UTBK

0
99
Ujian UTBK

Hal-hal yang akan ditulis di bawah ini adalah beberapa penyebab kegagalan seorang pelajar dalam meraih tujuan mereka dengan maksimal, semisal UTBK, padahal dirinya telah bersungguh-sungguh. Jadi, para pemalas tidak perlu membaca tulisan ini, sebelum masalah kemalasan mereka teratasi.

Hal-hal ini juga tidak perlu diperhatikan oleh pelajar yang hanya mengejar UTBK, ijazah, dan gelar dalam perjalanan keilmuannya. Sebab, jika hanya ijazah dan gelar yang dikejarnya, maka tidak perlu usaha ekstra untuk meraihnya hingga dia perlu memperhatikan anjuran-anjuran kitab Ta’limul-Muta’allim. Lagi pula, ilmu yang dicari hanya untuk menghadapi semisal UTBK, tidak akan mendatangkan kepakaran dan justru akan hilang bersama usainya UTBK.

Salah Niat

Tidak layak jika “ilmu” dengan segala kemuliaannya dikejar dengan tujuan duniawi, seperti harta dan pangkat, kecuali jika harta dan pangkat hanya dijadikan perantara untuk kesejahteraan dan kemaslahatan banyak orang.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَنْوِيَ الْمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَاءَ اللَّهِ تَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَإِزَالَةَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ

“Seorang pelajar dalam pencarian ilmunya hendaknya berniat meraih ridha Allah SWT., kebahagiaan akhirat dan mengentaskan kebodohan Dari dirinya serta orang lain.”

إلَّا إِذا طَلَبَ الْجَاهَ لِلْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتَنْفِيذِ الْحَقِّ وَإِعْزَازِ الدِّينِ لَا لِنَفْسِهِ وَهَوَاهُ فَيَجُوزُ ذَلِكَ بِقَدْرِ مَا يُقِيمُ بِهِ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kecuali jika ia mencari pangkat dengan tujuan amar makruf nahi mungkar, membela kebenaran dan memuliakan agama—bukan untuk memenuhi hasrat nafsunya, maka itu diperbolehkan sekadar keperluannya untuk menjalankan amar makruf nahi mungkar.”

Memilih Sendiri dan Terburu-buru Menentukan Disiplin Ilmu yang Akan Didalami

Ini adalah alasan kenapa banyak mahasiswa, di tengah-tengah masa perkuliahan, tiba-tiba merasa dirinya salah memilih jurusan. Sebelum menentukan fokus kepada suatu disiplin ilmu, seorang pelajar harus mendiskusikannya bersama orang yang berpengalaman dan benar-benar mengetahui kapasitas dan kemampuan dirinya, seperti guru dan orang tua. Berdiskusi dan berembuk tidak pernah merugikan.

وَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَخْتَارَ نَوْعَ عِلْمٍ بِنَفْسِهِ بَلْ يُفَوِّضُ أَمْرَهُ إلَى الْأُسْتَاذِ فَإِن الْأُسْتَاذَ قَدْ حَصَلَ لَهُ التَّجَارِبُ فِي ذَلِكَ فَكَانَ أَعْرَفَ بِمَا يَنْبَغِى لِكُلِّ وَاحِدٍ وَمَا يَلِيقُ بِطَبِيعَتِهِ

“Sebaiknya pencari ilmu tidak memilih sendiri macam disiplin ilmu yang akan dipelajarinya,  lebih baik dia serahkan urusan ini pada gurunya, karena seorang guru telah mencapai pengalaman dalam hal itu, sehingga dia lebih mengetahui tentang apa saja yang patut dan layak bagi tabiat tiap-tiap muridnya.”

قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ مَا هَلَكَ امْرُؤٌ عَنْ مَشُورَةٍ

“Ali karramaLlāhu wajhah berkata: ‘tidaklah seseorang akan binasa hanya karena berembuk/berdiskusi.’”

Baca Juga: Perubahan Ujian Nasional Menurut Syari’at

Terburu-buru Memilih Guru atau Tempat Belajar

Ini penting sekali diperhatikan, agar potensi Anda tersalurkan dengan baik. Dan, nyawa Anda aman (eh). Nyaris setiap tahun bukan kita mendengar berita tentang siswa/mahasiswa yang meregang nyawa karena kelalaian guru atau buruknya “kebijakan” sekolah.

Imam Abu Hanifah (imam mazhab Hanafi) pernah menjelaskan kenapa akhirnya ia memilih gurunya yang bernama Hammad setelah memikirkannya berulang kali. Katanya,

وَجَدْتُهُ شَيْخًا وَقُورًا حَلِيمًا صَبُورًا فِى الْأُمُورِ

“Aku mendapati Hammad sebagai seorang guru yang sepuh, agung, pemurah dan sangat penyabar dalam segala urusannya.”

Jika perkataan beliau ini kita bawa pada konteks era sekarang, maka pesan yang bisa kita ambil adalah: carilah guru yang berilmu luas dan berpengalaman; dan carilah tempat belajar yang ramah dan kondusif untuk menimba ilmu. Jika belajar lewat aplikasi online, maka pilih aplikasi bimbel online terbaik yang bisa kita ikuti.

Bersahabat dengan Pemalas

Berteman dengan siapapun memang tak pernah salah. Tapi bersahabat dan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dengan orang yang pemalas, hanya akan menularkan penyakit malasnya pada Anda. Kecuali, kalau Anda yakin bahwa Andalah yang akan merubahnya. Bukan sebaliknya.

لَا تَصْحَبِ الْكَسْلَانَ فِى حَالَتِهِ … كَمْ صَالِحٍ بِفَسَادِ آخَرَ يَفْسُدُ

Jangan kau bersahabat dengan pemalas dalam tingkah lakunya … Betapa banyak orang baik yang menjadi rusak karena kerusakan orang lain

Menutup Diri dari Diskusi

Diskusi menjadi penting, karena tak hanya berfungsi membuka kembali memori yang berisi ilmu dan pengetahuan, ia juga menambah pengetahuan baru dengan mendengar pendapat orang lain. Wajar jika sampai ada yang mengatakan,

مُطَارَحَة سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ تَكْرَارِ شَهْرٍ لَكِنْ إذَا كَانَ مَعَ مُنْصِفٍ سَلِيْمِ الطَّبِيعَةِ

Berdiskusi sesaat lebih baik dari pada mengulang-ngulang pelajaran selama sebulan jika lawan diskusinya merupakan orang yang bijaksana serta bagus perangainya.

Malu Bertanya dan Pelit Berbagi Pengetahuan

Sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad saw. yang bernama Ibnu Abbas r.a. pernah ditanya, dengan apa ia menghasilkan ilmu pengetahuannya. Ia menjawab, “Dengan lidah yang suka bertanya, dan hati yang selalu berangan-angan.”

Abu Yusuf, “imam kedua” mazhab Hanafi, juga pernah mendapat pertanyaan serupa. Katanya, “Aku tak malu untuk mencari faedah (ilmu) dari setiap orang. Aku pun tak pelit berbagi faedah ilmu.”