Oleh: Ahmad Muntaha AM

Seiring menumpuknya berbagai aktifitas sehari-hari, kadang kita justru lari dari hal-hal yang sudah pasti demi mengejar berbagai keinginan dan impian yang belum pasti. Sedemikiankah gelap hati kita? Dalam konteks ini Syaikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari berujar:

اَلْعَجَبُ كُلَّ الْعَجَبْ مِمَّنْ يَهْرَبُ مِمَّا لَا انْفِكَاكَ عَنْهُ وَيَطْلُبُ مَا لَا بَقَاءَ لَهُ مَعَهُ. فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (الحج: 46)

Sungguh sangat mengherankan, orang lari dari sesuatu yang tidak mungkin terlepas darinya dan justru mencari sesuatu yang tidak abadi bersamanya. [Allah berfirman, al-Hajj 46]: ‘Sebab sungguh bukan buta mata, akan tetapi buta hati yang ada di dalam dada’.”

Gelap Hati

Sesuatu yang pasti dan tidak terlepas sedetikpun dari manusia adalah Allah, qadha dan qadar-Nya, sementara yang tidak pasti adalah dunia dan segala yang diangan dan dibayangkan oleh nafsu. Perilaku kita sendiri sering mengherankan, bagaimana bisa kita justru lari dari Allah dan justru mencari selain-Nya? Padahal Allah pasti tidak terlepas dari kita. Bagaimana bisa terlepas, sementara hakikat wujud kita saja tidak akan pernah ada kecuali atas rahmat-Nya? Bagaimana kita justru lari dari-Nya dengan tidak berusaha semakin mengenal-Nya, meninggalkan pendekatan diri kepada-Nya dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya? Namun justru sebaliknya sibuk dengan segala urusan duniawi yang segera terlepas dari kita. Bila tidak terlepas di dunia, pasti segala urusan duniawi terlepas dari kita saat ajal tiba. Sebab itu, hendaknya kita memprioritaskan mengejar urusan yang sudah pasti dan abadi daripada urusan yang belum pasti dan segera pergi (Iqadh al-Himam, 88), seiring untaian syair klasik dari seniman terkenal asal Irak Abu al-‘Atahiyah al-‘Anazi (130-211 H/748-826 M):

هَبِ الدُّنْيَا تُسَاقُ إِلَيْكَ عَفْوًا أَلَيْسَ مَصِيرُ ذَاكَ إِلَى زَوَالٍ

Berikanlah dunia (kepada orang lain), maka dunia akan diarahkan kepada secara mudah. Bukankah akhir dari dunia itu sirna?”

Tiga Penyebab Gelap Hati

Lalu apa saja yang dapat menyebabkan orang gelap hati? Syaikh Abu al-Hasan as-Syadili menjawab:

عَمَى الْبَصِيرَةِ فِي ثَلَاثٍ: إِرْسَالِ الْجَوَارِحِ فِي مَعَاصِي اللهِ وَالطَّمَعِ فِي خَلْقِ اللهِ وَالتَّصَنُّعِ بِطَاعَةِ اللهِ.

Buta hati ada dalam (karena) tiga hal: membiarkan anggota badan dalam kemaksiatan terhadap Allah, tamak (berharap) terhadap makhluk dan berpura-pura dengan ketaatan terhadap Allah.”

Gelap Hati Si Imam Masjid

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi pernah mendengar kisah ironis dari ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan.

Suatu ketika orang shaleh yang karena pertimbangan agama harus hijrah dari negerinya. Kemudian tinggal di suatu desa sehingga Imam masjid desa yang sering dikunjungi mengenalnya. Lalu Sang Imam menanyakan hal ihwal yang berkaitan dengan rejekinya. Si Shaleh pun menjawab penuh ketenangan: Allah tidak akan pernah melupakannya.”

Selisih beberapa hari kemudian Sang Imam kembali menemuinya dan menanyakan lagi urusan rejekinya. Si Shaleh pun semakin mantap menjawab bahwa Allah memberi kemurahan kepadanya dan ia sama-sekali tidak khawatir dari mana rejekinya akan datang.

Namun demikian Sang Imam belum puas dan kembali menanyakan untuk ketiga kalinya: “Tapi dari mana sebab-sebab kehidupan (rejeki) kamu datang?”

Di desa ini ada seorang Yahudi yang mengenalku dan mengetahui keberadaanku, lalu ia menyisihkan sebagian hartanya untuk mencukupi kebutuhanku” terang Si Shaleh.

Sang Imam menimpali: “Bagus. Sungguh hilanglah kekhawatiran yang menggangguku karena penasaran pada dirimu.”

Sungguh telah aku tegaskan berulangkali kepada Anda, bahwa Allah telah menanggung rejekiku dan tidak akan melupakannya. Mengapa hal itu tidak membuat Anda percaya dan justru terus bertanya? Setelah aku beri tahu bahwa yang menaggung rejekiku adalah seorang Yahudi di desa ini, justru Anda percaya penuh atas kedermawanan dan kemurahannya?”

Sungguh ironis, Imam masjid yang setiap hari menghubungkan jamaahnya terhadap Allah—subhanahu wa ta’ala—saja lebih percaya terhadap kedermawanan Yahudi daripada kemurahan Allah Yang Maha Pemberi. Namun inilah cerminan nyata mental kita sehari-hari, gelap hati. Demikian kata al-Buthi.

Baca: Seri Artikel Kajian Hikam

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam, 55.
  2. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Atha’iyyah; Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/141-142.

Ilustrasi: amazingdesigns