Fikih Kebangsaan “Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan”

394

Dalam perjalanan sejarah bangsa, NKRI sebagai mu’ahadah wathaniyah (konsensus bangsa) yang berasaskan Pancasila terus diuji eksistensinya.”

Kalimat pembuka Bab I buku Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) mencerminkan keprihatinan dan kepedulian para kiai alumni Pondok Pesantren dengan situasi dan kondisi batiniah bangsa Indonesia dalam kebinnekaannya.

Kondisi geopolitik secara luas yang berubah semakin dinamis, perebutan pengaruh negara-negara adikuasa, kekerasan dan perang saudara di kawasan-kawasan Arab yang belum berhenti sejak tragedi Arab Spring (2010) hingga sekarang, secara langsung maupun tidak, juga mempengaruhi kondisi politik nasional. Apalagi dengan adanya indikasi upaya-upaya mengimpor konflik Timur Tengah ke dalam negeri.

Perhelatan suksesi kepemimpinan dalam kancah politik praktis juga telah tereksploitasi sedemikian rupa hingga menjadi bahan bakar konflik horisontal. Aksi-aksi anarkis, intoleran, sikap anti pemerintah dan adu domba dengan penyebaran hoax (berita bohong) yang dapat mengakibatkan instabilitas politik dan disintegrasi bangsa, juga semakin mengemuka dan memanaskan suasana hubungan antaranak bangsa.

Kitab’ Kebangsaan ala Pondok Pesantren secara jernih telah mengarusutamakan wawasan kebangsaan khas para Kiai. Semisal Bab II mengupas bagaimana para kiai menalar secara lugas urgensi NKRI Harga Mati bagi keberlangsungan negeri semajemuk Indonesia, Nasionalisme dalam Pandangan Islam, penegasan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, hingga penerapan syariat khas ala para Kiai.

Bab III memahamkan bagaimana para kiai mengawal pemerintahan yang sah secara konstitusional, kewajiban memghormatinya, larangan memberontak dan etika amr ma’ruf nahi munkar terhadap Pemerintah yang penuh kebijakan. Pembahasan ini menjadi sangat penting dalam kondisi kian masifnya gerakan anti pemerintah yang tidak sekedar oposisi positif, namun justru melompat jauh pada penyebaran propaganda anti pemerintah bahkan dengan dalil-dalil dan ‘jubah-jubah’ agama. Karenanya dalam Bab V kemudian juga ditegaskan bahwa provokasi bukan merupakan ajaran Aswaja an-Nahdliyyah.

Tak ketinggalan isu-isu muslim-non muslim di Indonesia, toleransinya, kesimpangsiuran legalitas ucapan selamat natal, jaga gereja dan hubungan sosial lainnya juga dijawab secara elegan dalam Bab IV dengan tajuk ‘Perbedaan adalah Keniscayaan’. Dakwah dengan mengedepankan rahmat juga menjadi bahasan penting dalam bagian ini.

Kemudian buku ini ditutup dengan sembilan (9) rekomendasi dalam maksud menyikapi persoalan kebangsaan, perhelatan suksesi kepemimpinan yang rawan konflik, aksi-aksi anarkis, intoleran, sikap anti pemerintah dan adu domba yang dapat mengakibatkan instabilitas politik dan persatuan nasional.

Baca Juga: Berpolitik dan Bernegara ala Kiai Wahab Chasbullah

Sebagai buku yang berangkat dari Bahtsul Masail para alumni Pondok Pesantren Lirboyo, tentunya sarat referensi-referensi dari kitab-kitab mu’tabarah di lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah. Karenanya sangat wajar bila dalam pengantarnya KH. Maimun Zubair, selaku penasehat Himasal mengujarkan:

Fikih Kebangsaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) telah mencerminkan penyelarasan ide-ide keislamaan dan kebangsaan secara ideal, sebagaimana sikap keistiqamahan khas para kiai NU dan pesantrennya.

____________________

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan
Pengantar: KH. Maimun Zubair
Mushahih: KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL
Editor: Ahmad Muntaha AM
Page, Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm
Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL
ISBN: 978-602-1207-99-0
Harga: Rp 22.000
Pemesanan: 0856-4537-7399
Resensi: Andre Rizqon Maulana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here