Etika dan Akhlak Bertetangga

0
294

Sering kita melihat di medsos, ada video tiktok atau story tentang sesuatu hal yang kurang enak, misalnya makanan, dengan cara menyamakan dengan “omongan tetangga”.

Secara pribadi penulis kurang sepakat dengan hal semacam itu, karena seakan-akan hal tersebut menvonis bahwa “omongan tetangga” pasti tidak mengenakkan hati, padahal belum tentu, seumpama pun ada, mungkin perilaku tetangga secara umum lebih banyak kebaikkannya dari pada omongannya yang kurang baik.

Maka dari itu, guna memperjelas duduk permasalahannya secara proporsional dan ilmiah, penulis akan mencoba menyampaikan; bagaimana sebenarnya tata cara (akhlak) bertetangga menurut islam. Apa saja hak-hak tetangga?

Sebelum masuk ke pembahasan akhlak bertetangga, mari kita men-tadabbur-i ayat :

{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ الاية [النساء: 36]

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat,… “ (QS. An-Nisa’ : 36)

Ayat ini menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy menyampaikan dua poin besar, yaitu hubungan vertikal dengan Allah Swt (hablun minallah) yakni beribadah dengan ikhlas kepada-Nya, dan hubungan horisontal dengan hamba-Nya, yakni berbuat baik dengan orang tua, kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan tetangga.

Masih di dalam Tafsir Munir karya Syaikh Az-Zuhailiy, menegaskan maksud dari ‘الْجَارِ ذِي الْقُرْبَى’ adalah tetangga yang paling dekat rumahnya atau masih ada hubungan nasab, sedangkan ‘ الْجَارِ الْجُنُبِ ‘ adalah tetangga yang agak jauh atau tidak ada hubungan nasab, dan yang terakhir ‘ الصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ ‘ adalah teman pada saat-saat tertentu, misalnya saat sekolah, saat bekerja, saat bepergian dsb.

Baca juga: Bijak Menyeimbangkan Akhlak dan Fikih

Baca juga: Hikmah Pergaulan (Kajian Hikam-32)

Ketiga kategori ini oleh Syaikh Az-Zuhailiy di dalam kitab yang lain, yakni Akhlaqul Muslim ‘Alaqotuhu bil Mujtama’, disebut beliau sebagai kategori macam-macam pembagian tetangga.

Dalam kitab Akhlakul Muslim ‘Alaqotuhu Bil Mujtama’ beliau menguraikan dalam satu bab khusus mengenai tetangga, dan diberi judul huququl jiwar (hak dan kewajiban tetangga).

Beliau menyampaikan bahwa akhlak bertetangga terbagi menjadi dua, yaitu ; melakukan hal-hal positif yang bermanfaat untuk tetangga, dan menjauhkan serta menghindarkan hal-hal negatif terhadap tetangga.

والإحسان الى الجار : إما إيجابي وإما سلبي . أما الإحسان الإيجابي فهو كتقديم الهدية او تبادل الهدايا … ومن هذه مظاهر الإحسان الإيجابية أيضا :التعاون على إنجاز حقوق الارتفاق … إكرام الجار قولا وعملا حديثا ومعاشرة مؤانسة … ومن أمثلة الإحسان الى الجار من الناحية السلبية فكثيرة منها منع ألوان الأذى والشر والفساد والإفساد

“Berbuat baik kepada tetangga adakalanya berbuat hal positif dan adakalanya mencegah hal negatif. Adapun berbuat hal positif itu seperti memberi hadiah atau saling memberi sesuatu.

Salah satu dampaknya: tolong menolong dalam menggapai sesuatu yang berguna, memuliakan tetangga dalam perkataan, perbuatan, saling mengasihi.

Sedangkan contoh berbuat baik kepada tetangga dari sisi mencegah hal negatif, itu sangatlah banyak, salah satunya mencegah segala hal yang dapat menyakiti, berbuat buruk, merusak, dan mencegah hal yang menimbulkan kerusakan.” (Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy, Akhlaqul Muslim ‘Alaqotuhu bil Mujtama’ [Beirut : Dar Al-Fikr, 2002] hal. 94)

Apa yang disampaikan oleh Syekh Az-Zuhailiy tidak semata hanya pendapat beliau, melainkan merujuk pada ayat di atas dan beberapa hadits, salah satunya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليحسن جاره

 “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah kepada tetangga.” (HR. Imam Muslim)

Dan hadis muttafaq ‘alaih yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairoh Ra. :

والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن , قيل : من يا رسول الله؟ قال : الذي لا يأمن جاره بوائقه

Demi Allah tidak beriman (secara sempurna) , Demi Allah tidak beriman (secara sempurna) , Demi Allah tidak beriman (secara sempurna), dikatakan: siapa ya Rasulullah ? Beliau bersabda: orang yang tetangganya tidak aman dari keburukkan orang tersebut.” (HR. Abu Hurairoh)

Sampai di sini, jelas sudah bagaimana akhlak bertetangga. Manusia sebagai makhluk sosial pasti akan punya tetangga, maka dari itu mari kita berusaha untuk menjadi tetangga yang baik. Karena sebagai manusia, kita sendiri pasti ingin agar orang lain berbuat baik pada kita, maka sudah seyogyanya kita pun berbuat baik kepada orang lain, terutama tetangga. Dan tulisan singkat ini tiada lain sebagai tadzkiroh bagi penulis pribadi, dan semoga bermanfaat bagi semua pembaca.

Wallahu a’lam


*Penulis: Amin Ma’ruf, PP Al-Iman Bulus Purworejo; Mahasiswa Tafsir Pascasarjana UNSIQ Wonosobo.