Dosa Pun Lebih Baik Bagi Orang Beriman (Hikam-48)

309

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

لَا يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عَظَمَةً تَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى. فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبُهُ.

“Janganlah suatu dosa di sisimu (dianggap) menjadi besar sehingga mencegahmu dari berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Sebab sungguh orang yang mengenal Tuhannya, maka di sisi karunia-Nya dosanya terbilang kecil.”  

Sikap Terhadap Dosa

Bagaimana memposisikan dosa yang telah kita lakukan. Dalam hal ini ada dua pilihan.

Pertama, kita menganggapnya sebagai perkara yang besar sehingga mendorong untuk bertobat, segera melepaskan diri darinya dan sepenuh hati bertekat untuk tidak mengulanginya. Sikap seperti inilah yang menjadi tanda baiknya iman.

Kedua, kita menganggapnya sebagai perkara yang besar sehingga menjerumuskan pada keputusasaan terhadap rahmat Allah dan berburuk sangka kepada-Nya. Sikap seperti inilah yang mencederai keimanan.

Keputusasaan terhadap rahmat Allah dan berburuk sangka kepada-Nya karena suatu dosa terjadi karena ketidaktahuan orang atas kemurahan dan kasih sayang Allah Ta’ala. Andaikan mengenal Allah sebenar-benarnya, maka ia yakin bahwa sebesar apapun dosa yang telah dilakukan akan menjadi sangat kecil dibandingkan dengan kemurahan dan kasih sayang Allah Ta’ala.

Kisah Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili Tentang Pendosa

Suatu ketika ada orang yang mendatangi Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili untuk mengadukan kemungkaran-kemungkaran yang telah dilakukan tetangganya. Di luar dugaan beliau menjawab:

“Wahai kamu ini, seolah kamu menghendaki Allah tidak dimaksiati dalam kekuasan-Nya. Orang yang senang Allah Swt tidak dimaksiati dalam kekuasan-Nya, sebenarnya ia senang ampunan Allah Swt dan syafaat Rasulullah Saw tidak tampak (di dunia). Banyak sekali para  pendosa yang banyak keburukan dan penentangannya justru dipastikan mendapatkan rahmat dari Tuhannya. Tuhannya tetap menjadi Zat Yang Maha Berbelas Kasih dan Maha Mengetahui terhadapnya sesuai kadar keimanannya, meskipun ia seorang pendosa.”

Baca Juga: Tanda Hidup Matinya Hati

Jawaban bijak Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili seiring hadits Rasulullah Saw:

والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ الله بِكُمْ وَجَاءَ بِقَومٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ الله تَعَالَى، فَيَغْفِرُ لَهُمْ. (رواه مسلم)

Demi Allah Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, andaikan kalian tidak berdosa niscaya Allah akan membinasakan kalian dan menatangkan kaum yang melakukan dosa, lalu mereka memohon ampunan kepada Allah Ta’ala sehingga Dia mengampuni mereka.” (HR. Muslim)

Dosa Lebih Baik Bagi Orang Beriman daripada Bangga Diri

Syaikh Ja’far bin Muhammad mengatakan (al-Adab as-Syar’iyyah, II/307):

عَلِمَ اللهُ أَنَّ الذَّنْبَ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْعُجْبِ، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمَا اُبْتُلِيَ مُؤْمِنٌ بِذَنْبٍ.

“Allah mengetahui bahwa dosa lebih baik bagi orang beriman daripada rasa bangga diri. Bila tidak demikian niscaya seorang mukmin tidak akan diuji dengan melakukan suatu dosa.”

Kenapa demikian? Karena dosa dapat mencegah menculnya bangga diri yang sebenarnya menjadi hijab (penghalang) paling besar antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang yang bangga diri lebih sering memperhatikan dirinya daripada Tuhannya, dan menganggap besar ketaatan dan ibadah yang dilakukannya. Berbeda dengan pendosa, ia akan merasa takut kepada Allah dan lari dari dirinya sendiri pergi menghadap Tuhannya.

Rasa bangga diri memalingkan hamba dari Tuhannya, sedangkan dosa mengadapkan hamba kepada-Nya. Rasa bangga diri membuat hamba merasa tidak membutuhkan kepada Tuhannya, sedangkan dosa mendorongnya untuk sangat membutuhkan-Nya. Sementara yang paling disukai oleh Allah dari para hambanya adalah rasa membutuhkan terhadap-Nya.

Baca Juga: Seri Artikel Kajian Hikam


Sumber:
1. Ibn ‘Ibad an-Nafazi ar-Randi, Syarh al-Hikam, (Indonesia: al-Haramain, tth.), 42-43.
2. Muhammad bin Muflih al-Maqdisi al-Hanbali, al-Adab as-Syar’iyyah, II/307.

Ilustrasi: freepik