Bung Karno Dan Kitab Fathul Qarib

130

Berikut kisah tentang Bung Karno, Kyai Wahab Chasbullah dan Kitab Fathul Qarib yang menjadi rujukan Kyai Wahab dalam menjawab pertanyaan Penyambung Lidah Rakyat ini.

Setelah diadakan beberapa perundingan untuk menyelesaikan Irian barat dan selalu gagal, bung Karno menghubungi kyai Wahab di Jombang. Penyambung Lidah Rakyat ini menanyakan bagaiamana hukumnya orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat. Kyai Wahab menjawab tegas, Hukumnya sama dengan orang yang ghasab.

“Apa artinya ghasab, kyai?” tanya bung Karno.

“Ghasab itu istihqaqu maalil ghair bighairi idznihi. Artinya menguasai hak milik orang lain tanpa izin, “terang kyai Wahab.

“Lalu bagaimana solusi untuk menghadapi orang yang ghasab?”

“Adakan perdamaian,” tegas kyai Wahab.

Lalu Ir. Soekarno bertanya lagi, “Menurut insting kyai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?”

“Tidak,”

“Lalu, kenapa kita tidak potong kompas saja, kyai?” bung Karno sedikit memancing.

“Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata kyai Wahab. Selanjutnya Ir. Soekarno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Perundingan ini akhirnya gagal. Kegagalan ini disampaikan bung Karno pada kyai Wahab. “kyai, apa solusi selanjutnya menyelesaikan masalah Irian Barat?”

“Akhadzahu Qahra (Ambil/Kuasai dengan paksa!).” kyai Wahab menjawab tegas.

“Apa rujukan kyai untuk memutuskan masalah ini?”

“Saya mengambil literatur kitab Fathul Qarib dan syarahnya (al-Baijuri).”

Sumber: A. Azizi Masyhuri, Karya intelektual,h.229  (Surabaya: Bintang, 2012).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here