Daurah Ahlussunnah wal Jama’ah yang diselenggarakan Madrasah Diniyah Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo pada Rabu 11 Oktober 2017 siang berlangsung sukses dan semarak.

Santri Putra maupun Putri sangat antusias mengikuti jalannya Daurah, terlebih saat session tanya jawab aswaja dibuka.

Pada majelis Putri, beberapa santri penuh semangat mengajukan berbagai pertanyaan.

“Bagaimana cara mengenali aliran-aliran di luar Ahlussunnah wal Jama’ah dan bagaimana cara terbaik dalam menyikapinya Ustad?” tanya Naya salah seorang peserta kepada Ustad Ahmad Muntaha AM Nara Sumber materi Mafahim Aswaja dan Aliran-aliran dalam Islam.

Di luar dugaan, Nara Sumber dari Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur justru menjawab, bahwa terkadang penganut aliran-aliran di luar Ahlussunnah wal Jama’ah justru tampak terkesan lebih Islami dari pada para santri.

ustad ahmad muntaha
Ustad Ahmad Muntaha

“Semisal Wahabi Salafi, HTI atau Ikhwani. Atribut lahiriah mereka lebih tampak Islami, seperti celana cingkrang dan berjenggot bagi laki-laki, sementara yang perempuan jilbabnya lebih lebar dari jilbab para santri”, terang Ustad Muntaha disambut tawa peserta Daurah.

“Namun di balik atribut lahiriah yang tampak sangat Islami, mereka sering sangat mudah membid’ah-sesatkan orang yang tidak sepaham dengannya”, tegasnya.

Ustad Muda juga menambahkan, kendati begitu, ketika kelak lulus Pesantren dan melanjutkan pendidikan di Perkuliahan, lalu berteman dengan orang yang beda pemahaman, para santri tetap harus bisa menjaga hubungan pertemanan yang baik, asal tidak terpengaruh dan ikut mengaji kelompok mereka. Kalau bisa justru para santri yang memberi pencerahan kepadanya.

Selain itu juga muncul pertanyaan tentang mengamalkam wirid orang beda aliran, eksistensi berbagai paham keagamaan dan semisalnya.

Sementara di majelis putra, Ustad Ma’ruf Khozin menguraikan dalil-dalil amaliah Aswaja an Nahdliyyah beserta wawasan ke-NU-an.

Berita Sebelumnya: Bumi Shawalat Cerdaskan Generasi Muda Dengan Daurah Aswaja

ustad ma'ruf khozin
Ustad Ma’ruf Khozin

“Session pertama majelis putra juga banyak yang bertanya. Para santri menulis beberapa pertanyaan seputar amaliah NU yang kerap dibid’ah-bidahkan di lembaran kertas kemudian diberikan kepada moderator”, Kata Ustad Ma’ruf.

Setelah session pertama usai dan diselingi istirahat 15an menit, session kedua dimulai secara silang. Ustad Ma’ruf di majelis putri sedangkan Ustad Muntaha di majelis putra. (Muhammad Iqbal/Sidoarjo)