Bulan Safar Dalam Islam, Benarkah Bulan Sial ?

0
1481
bulan safar dalam islam

Sampai sekarang ini masih ada sebagian orang yang menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial. Ada juga yang menganggap sial pada hari-hari tertentu, seperti hari Rabu, hari Sabtu, dll. Sehingga pada bulan atau waktu-waktu tersebut, mereka tidak berani melangsungkan pernikahan, membangun rumah, memulai usaha, dan lain sebagainya. Karena mereka meyakini atau menganggap bahwa pernikahan atau aktifitas lainnya jika dilangsungkan pada hari-hari tersebut bisa menimbulkan ketidak cocokan, berdampak tidak harmonis, menimbulkan kerugian, dan lain sebagainya.

Bulan Shafar merupakan salah satu bulan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita sebagai hamba-Nya. Bulan Shafar tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya, sama-sama mulia. Sangat baik jika kita mau mengisinya dengan amal ibadah atau beragam kegiatan positif lainnya. Perihal musibah atau cobaan yang banyak diturunkan ke bumi pada bulan Shafar dalam setahun, itu bukan semata-mata dikarenakan oleh adanya bulan itu sendiri, melainkan semuanya sudah kehendak dari Allah SWT.

Safar Bukan Bulan Sial

Pada masa Jahiliyyah, orang-orang beranggapan apabila pada malam hari di atas rumah mereka ada burung hantu, maka keesokan harinya salah satu dari anggota keluarga mereka pasti akan ada yang meninggal dunia. Selain itu, ketika hendak bepergian atau akan melakukan suatu aktivitas tertentu, mereka suka meramal nasibnya sendiri dengan melepaskan seekor burung. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan berarti itu pertanda baik. Sebaliknya, jika burung itu terbang ke arah kiri, tandanya mereka akan kena sial.

Orang-orang Jahiliyyah dahulu juga menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial. Maka, Nabi Muhammad SAW membantah keyakinan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa bulan Shafar tidak bisa memberikan pengaruh apa-apa. Bulan Shafar sama seperti bulan atau waktu-waktu lainnya yang telah Allah SWT jadikan sebagai kesempatan untuk melakukan amal-amal yang bermanfaat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim disebutkan;

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ (رواه البخاري و مسلم)

Artinya:
“Tidak ada penularan penyakit, tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh berprasangka buruk, dan tidak ada keburukan dalam bulan Shafar.” (HR. Bukhori Muslim).

Bulan Safar dalam Islam

Akhirnya, perlu kita ingat kembali, dalam ajaran Islam, semua bulan dan hari itu baik. Masing-masing mempunyai sejarah, keistimewaan, dan peristiwa sendiri-sendiri. Jika ada bulan tertentu mempunyai sisi nilai keutamaan yang lebih, bukan berarti bulan yang lain merupakan bulan yang buruk. Andaikan ada kejadian tragis atau peristiwa yang memilukan dalam bulan tertentu, bulan Shafar misalnya, hal itu bukan berarti bahwa bulan tersebut merupakan bulan musibah atau bulan yang membawa sial. Karena, pada dasarnya semua itu terjadi tidak pernah lepas dari kehendak Allah SWT. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Seputar Mitos Hingga Amaliyah Bulan Suro / Muharram


Referensi:
M. Masykur Khoir, Hidayah: Tuntunan Ibadah Sunnah 12 Bulan, Kediri: Duta Karya Mandiri, tt.

Ilustrasi: hdwallpapers