Berhukum Dengan Hukum Allah Dalam Perspektif Tafsir Otoritatif Mafatih Al Ghaib

Pilihan

Fikih Kebencanaan Perspektif NU (bag-1)

PENDAHULUAN Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor. ...

Bolehkah Membatalkan Sholat Karena HP Berdering ?

Sering kali saat ke masjid kita menemukan instruksi untuk mematikan HP “HP HARAP DIMATIKAN”. Sebut saja pak Jono, seorang kuli yang rajin...

Pilihan Mendalami Agama atau Berdakwah

Galau, bingung dan penuh dilematis, mungkin inilah yang dirasakan kang Sholeh santri Ibtidaiyyah yang baru saja memulai petualangan mempelajari ilmu agama khas...
Ahmad Muntaha AM
PP Imadut Thulabah, Nepak, Mertoyudan Magelang. PP Nurul Hidayah, Pangen Juru Tengah, Purworejo. PP Lirboyo Kota Kediri (2001-2010). Sekretaris PC LBM NU Kota Surabaya (2013-2015 & 2015-2017). Narasumber Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur (2014-sekarang). Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur (2013-sekarang). Pengurus LTN HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo PUSAT) dan Lirboyo Press. Penulis Buku Populer Khazanah Aswaja.

Fakhruddin ar Razi dalam Mafatih al Ghaib (XII/5-7) telah menjelaskan ayat-ayat tentang orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Ia mengutip pendapat ‘Ikrimah’ yang dinilainya shahih dalam pembahasan ini sebagaimana berikut:

قال عكرمة: قوله: ومن لم يحكم بما أنزل الله، إنما يتناول من أنكر بقلبه وجحد بلسانه. أما من عرف بقلبه كونه حكم الله وأقر بلسانه كونه حكم الله، إلا أنه أتى بما يواجه فهو حاكم بما أنزل الله تعالى، ولكنه تارك له. فلا يلزم دخوله تحت هذه الآية. وهذا هو الجواب الصحيح. والله اعلم.

‘Ikrimah berkata: “Firman Allah: “Orang yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah turunkan” [QS. Al Maidah: 44]. Ayat ini hanya mencakup orang yang mengingkarinya dengan hati dan lisannya. Sementara orang yang mengakuinya sebagai hukum Allah dengan hati dan lisannya, namun ia melakukan hal yang bertentangan dengannya, maka ia tetap merupakan orang yang berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah Ta’ala, namun (sekedar merupakan) orang yang meninggalkannya, sehingga ia tidak otomatis masuk dalam ayat ini. Inilah jawaban yang shahih. Wallahu a’lam.

oleh: Ahmad Muntaha AM

Referensi :

  1. Fakhruddin ar Razi, Mafatih al Ghaib, (Bairut: Far al-Fikr, 1401 H/1981 M), Cet. Pertama, XII/5-7.

Sumber :
Grup Whatsapp, Kajian Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Divisi KISWAH Aswaja NU Center Jatim

More articles

Terbaru

Doa Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Sholat Tahajud memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan. Tentunya akan semakin memperkuat semua niat dan tujuan kita...

Niat Sholat Tahajud dan Keutamaannya

Sholat Tahajud atau yang biasa kita kenal dengan Sholat malam merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan, lazimnya dilaksanakan di sepertiga...

Sayyid Gus Dur Dan Sayyid Millennial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagergunung, 27 Desember 2019 Gus Dur itu Sayyid. Sayyid sejati. Sebab yang berhak mengenakan gelar sayyid...

Gus Dur, Al-Muhallab Dan Dedikasi Generasi Milenial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagi dingin di Pagergunung, 28 Desember 2019 Ini sedang baca-baca karya al Muhallab : al Mukhtashar...

Nafkah wajib istri termasuk kuota internet & make up nih ?

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami...