Aswaja NU Center Jatim Adakan Seminar Internasional dan Daurah Aswaja Nasional

0
561
seminar internasional

Selama empat hari, Selasa-Jumat ( 23-26 Desember 2014 ), ratusan pegiat gerakan Aswaja dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Asrama Haji Surabaya. Mereka digembleng secara intensif dari sisi teori, persepsi, pemahaman hingga debat terkait Aswaja yang menjadi pegangan NU.

Penegasan ini disampaikan Ketua Panitia Daurah Aswaja Nasional Fathul Qodir kepada NU Online, Jum’at (5/12). “Peserta adalah utusan resmi dari PWNU se-Indonesia dan pesantren yang telah memenuhi standar,” katanya.

Standar yang dimaksud adalah usia di bawah 40 tahun dan memiliki kemampuan membaca serta memahami kitab kuning, lanjutnya.

Selama daurah, para peserta akan mendapatkan pengetahuan dan pendalaman soal sejarah, ibadah dan hal lain yang menyangkut aqidah. Di antara materi yang akan disajikan adalah firqah dalam sejarah Islam, internalisasi Aswaja dan radikalisme Wahabi, Islam Nusantara, bedah kitabal-Muqtathafat li Ahl al-Bidayat, Syi’ah dan Hizbut Tahrir; sejarah, doktrin dan perkembangannya di Indonesia serta posisinya dalam perspektif Aswaja An-Nahdliyah. Juga ada materi konsep bid’ah yang meliputi tradisi tahlilan, selamatan kelahiran, pernikahan, kematian dan sejenisnya.

“Yang tidak luput dalam bahasan adalah liberalisme, dari mulai sejarah, produk pemikiran, dan perkembangan mutakhir, serta posisinya dalam perspektif Aswaja an-Nahdliyah,” ungkap Ustadz Qodir, sapaan akrabnya. Tasawwuf Junaid al-Baghdadi juga mendapat porsi pembahasan, wahdatul wujud dan kebatinan, hingga simulasi debat.

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur KH Abdurrahman Navis menginginkan daurah yang berskala nasional ini bisa diselenggarakan secara serius dan padat. “Karena dari kegiatan ini diharapkan akan ada kesadaran bagi PWNU se Indonesia untuk mendirikan Aswaja NU Center di masing-masing daerah,” kata Kiai Navis.

Karena tantangan yang dihadapi NU khususnya di luar Jawa sangat sengit dan keras. “Justru aliran ekstrem kiri yang cenderung liberal serta kanan yang radikal tumbuh subur di luar Jawa,” kata dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Karenanya menghadirkan peserta dari luar Jawa sekaligus menyapa dan mengharap intensitas mereka dalam membina umat.

Bahkan bila seluruh PWNU se-Indonesia telah memiliki Aswaja NU Center, diharapkan lembaga serupa akan ada di PBNU, sehingga memudahkan koordinasi agar lebih intensif dalam membahas hal ini. “Kita harapkan saat Muktamar NU ke 33 nanti keberadaan Aswaja NU Center menjadi pembahasan di forum musyawarah tertinggi di NU tersebut,” tandas Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

*disadur dan diubah seperlunya dari SUMBER