Aqidatul Awam: Nazham ilmu Tauhid yang Didekte Langsung oleh Rasulullah saw. di Bulan Rajab

0
754

Tepat 184 tahun yang lalu, sebuah hal besar terjadi. Sebuah peristiwa yang memberi sumbangsih besar bagi intelektualitas umat Islam, tepatnya dalam bidang ilmu Tauhid. 

Alkisah, pada malam Jumat tanggal 6 Rajab 1258 H, seorang lelaki bernama Syekh Ahmad Al-Marzuqi yang merupakan mufti mazhab Maliki, bermimpi bertemu Rasulullah saw. bersama para sahabat di sekeliling beliau. Lalu Rasulullah memerintahkan sesuatu padanya:

اقْرَأ مَنْظُومَةَ التَّوْحِيدِ الَّتِي مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَنَالَ الْمَقْصُودَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ وَافَقَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Bacalah nazham ilmu tauhid yang jika seseorang menghafalnya, dia akan masuk surga dan meraih segala kebaikan yang ia tuju. (nazham itu) Yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.”

Mendapat perintah demikian, si Mufti kebingungan, lalu para sahabat Rasul berkata,

اسْمَعْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ مَا يَقُولُ

“Dengarkanlah apa yang disabdakan Rasulullah”

Kemudian Rasulullah saw. menuntunnya melafalkan bait-bait nazham yang beliau maksud. Dimulai dari bait pertama:

 أَبْدَأُ بِسْمِ اللهِ وَالرَّحْمٰنِ * وَبِالرَّحِيْمِ دَائِمِ الْإحْسَان

“Aku memulai dengan menyebut nama Allah, Ar-Rahman, Ar-Rahim yang kekal kebaikannya”,

hingga bait ke-26 yang berbunyi

 وَصُحُفُ الْخَلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ * فِيْهَا كَلَامُ الْحَكَمِ الْعَلِيْم

“Dan mushaf-mushaf Ibrahim Al-Khalil dan Musa Al-Kalim di dalamnya adalah firman Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Baca juga: Isyarat Tiga Jari Rasulullah Saw. dan Kaitannya dengan Puasa Bulan Rajab

Setelah sang Mufti terbangun, ia membaca ulang nazham yang diperolehnya dari Rasulullah di mimpinya tadi, dan ternyata semuanya ia hafal dari awal hingga akhir. 

Selang sekitar lima bulan, tepatnya pada malam Jumat 28 Dzulqa’dah, Syekh Ahmad Al-Marzuqi yang juga seorang sayyid (keturunan Nabi Muhammad saw.) dari jalur Sayidina Hasan itu kembali bermimpi bertemu datuknya. Dalam mimpinya kali ini, Rasulullah memerintahkannya untuk “menyetorkan” hafalan nazham yang ia peroleh beberapa bulan sebelumnya. Sayyid Ahmad Al-Marzuqi pun melafalkannya dari awal hingga akhir di hadapan datuknya itu. Sedangkan para sahabat Nabi berada di sekeliling beliau. Mereka mengucapkan “Amin” setiap Sayyid Ahmad Al-Marzuqi membaca satu bait. 

Setelah semua bait selesai dibacakan, Nabi bersabda padanya:

وَفَّقَك اللَّهُ لِمَا يُرْضِيهِ وَقَبِلَ مِنْكَ ذَلِكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَنَفَعَ بِهَا الْعِبَادَ

“Semoga Allah memberimu pertolongan pada perkara yang Ia ridai, dan menerima nazham tersebut darimu, memberkahimu dan orang-orang mukmin, serta memberi manfaat pada para hamba-Nya dengan nazham itu.”

Singkat cerita, orang-orang menanyakan ihwal nazham tersebut, lalu Sayyid Ahmad Al-Marzuqi menjawab pertanyaan mereka. Kemudian dari 26 bait yang diajarkan Rasulullah saw., beliau menambahkan sendiri 31 bait. Mulai dari bait ke-27:

 وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُوْلُ * فَحَقّه التَّسْلِيْمُ وَالْقَبُوْل

“Semua perkara yang dibawa Rasulullah saw. haruslah disambut dan diterima”, 

hingga bait ke-57 yang berbunyi:

سَمَّيْتُهَا عَقِيْدَةَ الْعَوَّام * مِنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَام

“Aku menamai kasidah ini dengan Aqidatul-Awam yang memuat akidah kewajiban agama dengan sempurna.”

Sejumlah 57 bait tersebut di kemudian hari dikenal dengan nazham ‘Aqidatul ‘Awam. Kitab yang sudah tak asing lagi di telinga umat Islam. Banyaknya komentar (syarah) atas kitab tersebut cukup kiranya menjadi bukti kesohoran dan kemanfaatan kitab ini, sesuai doa Nabi saw. Sebut saja Jala’ul-Afham-nya Sayyid Muhammad Al-Maliki, Nuruzh-Zhalam karya Syekh Nawawi Banten, hingga Tahshilu Nailil-Maram, syarah yang ditulis pengarangnya sendiri.

Kitab yang disusun Sayyid Ahmad Al-Marzuqi ini biasanya menjadi kitab dasar bagi seorang muslim ketika mempelajari ilmu tauhid, karena memang isinya padat namun mudah dipaham. Sangat cocok sebagai pengantar memahami ilmu tauhid. 

Kisah yang luar biasa ini diceritakan secara singkat oleh Sayyid Muhammad dalam syarahnya; Jala’ul Afham (hlm. 12-13). Dalam Nuruzh Zhalam (hlm. 13-15)Syekh Nawawi Banten juga menuliskan kisah ini dengan lebih detail. Wallahu a’lam.