Amal yang Menghidupkan Hati (Hikam-50)

74

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

لَا عَمَلَ أَرْجَى لِلْقُلُوبِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ وَيُحْتَقَرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ.

“Tiada amal yang paling dapat diharapkan dapat menghidupkan hati daripada amal yang kehadirannya hilang darimu dan wujudnya hina di sisimu.”  

Tidak ada amal yang lebih bisa menghidupkan hati manusia daripada amal yang dilakukan karena Allah, amal yang tidak lagi dihiraukan lagi keberadaannya oleh pelakunya. Amal yang oleh pelakunya dianggap sebagai amal biasa saja, bukan sebagai amal yang luar biasa. Bahkan ia akan menganggapnya sebagai amal kecil dan tidak memperhatikannya lagi karena sibuk melakukan amal-amal lain demi kepatuhan terhadap Allah Swt.

Harap-Harap Cemas Amal Tidak Diterima

Merujuk penjelasan Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadahan al-Buthi, kalam hikmah Ibn ‘Athaillah di atas berdasarkan firman Allah Swt:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (المؤمنون: 60)

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan sementara hatinya penuh rasa takut (karena tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. al-Mu’minun: 60)

Mereka inilah orang-orang yang selalu diliputi rasa ketakutan terhadap Allah karena merasa amal-amalnya tidak ada yang sempurna, banyak cacat dan kurangnya. Mereka sangat khawatir amalnya tidak diterima dan justru khawatir akan mendapatkan siksa karenanya.

Kisah ‘Aisayah Ra

Suatu kali, ‘Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah maksud ‘orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan sementara hatinya penuh rasa takut (karena tahu)’ adalah para pencuri, pezina dan peminum minuman keras yang takut terhadap Allah?” Beliaupun menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ. (رواه الترمذي)

“Tidak wahai Putri Abu Bakar as-Shiddiq, namun mereka adalah orang-orang yang (gemar) berpuasa, shalat dan sedekah sementara mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka inilah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi)

Demikianlah di antara mental orang yang gemar melakukan kebaikan adalah melakukan kebaikan disertai harap-harap cemas amalnya tidak akan diterima karena berbagai cacat dan kekurangannya. Sebab dengan seperti itu, justru ia akan berhati-hati dalam beramal dan berupaya melakukannya sesempurna mungkin. Tidak menganggap amalnya sebagai hal yang luar biasa namun justru mengkhawatirkan diterima atau tidaknya. Amal seperti inilah yang justru dapat menghidupkan hati dan diterima di sisi Allah Swt.

Tanda Diterima dan Tidaknya Amal

Dalam kontek ini al-Imam Zainul Abidin Ra menyatakan:

كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَفْعَالِكَ إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ رُؤْيَتُكَ فَذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يُقْبَلْ لِأَنَّ الْمَقْبُولَ مَرْفُوعٌ مَغِيبٌ عَنْكَ، وَمَا انْقَطَعَتْ عَنْهُ رُؤْيَتُكَ فَذَاكَ دَلِيلٌ عَلَى الْقَبُولِ.

“Segala amal dari amal-amalmu bila pandanganmu masih berkaitan dengannya maka hal itu menunjukkan amalmu tidak diterima, sebab amal yang diterima itu diangkat dan sirna darimu; sedangkan amal yang pandanganmu sudah terputus darinya maka itu menunjukkan atas diterimanya (amalmu di sisi Allah).”

Baca Juga: Tidak Ada Dosa Kecil, Tidak Ada Dosa Besar

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), I/101.
  2. Abdul Majid as-Syarnubi, Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah, 58-59.
  3. Ibn ‘Ujaibah, Iqazh al-Himam Syarh Matn al-Hikam, 70.
  4. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/240.
  5. Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H/2000 M),XXIII/93-93.