Amal yang Menghidupkan Hati (Hikam-50)

Pilihan

Fikih Kebencanaan Perspektif NU (bag-1)

PENDAHULUAN Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor. ...

Bolehkah Membatalkan Sholat Karena HP Berdering ?

Sering kali saat ke masjid kita menemukan instruksi untuk mematikan HP “HP HARAP DIMATIKAN”. Sebut saja pak Jono, seorang kuli yang rajin...

Pilihan Mendalami Agama atau Berdakwah

Galau, bingung dan penuh dilematis, mungkin inilah yang dirasakan kang Sholeh santri Ibtidaiyyah yang baru saja memulai petualangan mempelajari ilmu agama khas...
Ahmad Muntaha AM
PP Imadut Thulabah, Nepak, Mertoyudan Magelang. PP Nurul Hidayah, Pangen Juru Tengah, Purworejo. PP Lirboyo Kota Kediri (2001-2010). Sekretaris PC LBM NU Kota Surabaya (2013-2015 & 2015-2017). Narasumber Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur (2014-sekarang). Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur (2013-sekarang). Pengurus LTN HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo PUSAT) dan Lirboyo Press. Penulis Buku Populer Khazanah Aswaja.

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

لَا عَمَلَ أَرْجَى لِلْقُلُوبِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ وَيُحْتَقَرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ.

“Tiada amal yang paling dapat diharapkan dapat menghidupkan hati daripada amal yang kehadirannya hilang darimu dan wujudnya hina di sisimu.”  

Tidak ada amal yang lebih bisa menghidupkan hati manusia daripada amal yang dilakukan karena Allah, amal yang tidak lagi dihiraukan lagi keberadaannya oleh pelakunya. Amal yang oleh pelakunya dianggap sebagai amal biasa saja, bukan sebagai amal yang luar biasa. Bahkan ia akan menganggapnya sebagai amal kecil dan tidak memperhatikannya lagi karena sibuk melakukan amal-amal lain demi kepatuhan terhadap Allah Swt.

Harap-Harap Cemas Amal Tidak Diterima

Merujuk penjelasan Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadahan al-Buthi, kalam hikmah Ibn ‘Athaillah di atas berdasarkan firman Allah Swt:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (المؤمنون: 60)

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan sementara hatinya penuh rasa takut (karena tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. al-Mu’minun: 60)

Mereka inilah orang-orang yang selalu diliputi rasa ketakutan terhadap Allah karena merasa amal-amalnya tidak ada yang sempurna, banyak cacat dan kurangnya. Mereka sangat khawatir amalnya tidak diterima dan justru khawatir akan mendapatkan siksa karenanya.

Kisah ‘Aisayah Ra

Suatu kali, ‘Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah maksud ‘orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan sementara hatinya penuh rasa takut (karena tahu)’ adalah para pencuri, pezina dan peminum minuman keras yang takut terhadap Allah?” Beliaupun menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ. (رواه الترمذي)

“Tidak wahai Putri Abu Bakar as-Shiddiq, namun mereka adalah orang-orang yang (gemar) berpuasa, shalat dan sedekah sementara mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka inilah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi)

Demikianlah di antara mental orang yang gemar melakukan kebaikan adalah melakukan kebaikan disertai harap-harap cemas amalnya tidak akan diterima karena berbagai cacat dan kekurangannya. Sebab dengan seperti itu, justru ia akan berhati-hati dalam beramal dan berupaya melakukannya sesempurna mungkin. Tidak menganggap amalnya sebagai hal yang luar biasa namun justru mengkhawatirkan diterima atau tidaknya. Amal seperti inilah yang justru dapat menghidupkan hati dan diterima di sisi Allah Swt.

Tanda Diterima dan Tidaknya Amal

Dalam kontek ini al-Imam Zainul Abidin Ra menyatakan:

كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَفْعَالِكَ إِذَا اتَّصَلَتْ بِهِ رُؤْيَتُكَ فَذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يُقْبَلْ لِأَنَّ الْمَقْبُولَ مَرْفُوعٌ مَغِيبٌ عَنْكَ، وَمَا انْقَطَعَتْ عَنْهُ رُؤْيَتُكَ فَذَاكَ دَلِيلٌ عَلَى الْقَبُولِ.

“Segala amal dari amal-amalmu bila pandanganmu masih berkaitan dengannya maka hal itu menunjukkan amalmu tidak diterima, sebab amal yang diterima itu diangkat dan sirna darimu; sedangkan amal yang pandanganmu sudah terputus darinya maka itu menunjukkan atas diterimanya (amalmu di sisi Allah).”

Baca Juga: Tidak Ada Dosa Kecil, Tidak Ada Dosa Besar

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), I/101.
  2. Abdul Majid as-Syarnubi, Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah, 58-59.
  3. Ibn ‘Ujaibah, Iqazh al-Himam Syarh Matn al-Hikam, 70.
  4. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/240.
  5. Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H/2000 M),XXIII/93-93.

More articles

Terbaru

Doa Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Sholat Tahajud memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan. Tentunya akan semakin memperkuat semua niat dan tujuan kita...

Niat Sholat Tahajud dan Keutamaannya

Sholat Tahajud atau yang biasa kita kenal dengan Sholat malam merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan, lazimnya dilaksanakan di sepertiga...

Sayyid Gus Dur Dan Sayyid Millennial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagergunung, 27 Desember 2019 Gus Dur itu Sayyid. Sayyid sejati. Sebab yang berhak mengenakan gelar sayyid...

Gus Dur, Al-Muhallab Dan Dedikasi Generasi Milenial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagi dingin di Pagergunung, 28 Desember 2019 Ini sedang baca-baca karya al Muhallab : al Mukhtashar...

Nafkah wajib istri termasuk kuota internet & make up nih ?

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami...