Al-‘Ala` bin Al-Hadhrami: Sekretaris Wahyu yang Terkenal Sakti

0
712
adab saat bencana
Teenage girl with praying. Peace, hope, dreams concept.

Al-‘Ala` bin Al-Hadhrami memiliki nama lengkap Al-‘Ala` bin Abdullah bin Imad bin Akbar (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala`, vol. 1, hal. 262). Ia adalah salah satu dari sedikit sahabat Nabi Muhammad saw. yang menjadi sekretaris wahyu. Di zaman Nabi, ia pernah ditugaskan berdakwah ke tanah Bahrain dan menuai sukses dengan banyaknya orang yang memeluk Islam. Hingga Nabi mengangkatnya sebagai pemimpin di Bahrain. 

Bahrain yang dimaksud ini bukanlah Kerajaan Bahrain yang kita kenal sekarang. Melainkan kawasan yang dulu juga dikenal dengan sebutan Arabia Timur. Meliputi negara Kuwait, Qatar, dan beberapa kawasan dari Kerajaan Saudi, Bahrain dan Republik Irak sekarang.

Selain itu, di banyak literatur klasik disebutkan bahwa Al-‘Ala` r.a. merupakan orang yang doanya mudah diijabah oleh Allah Swt. (Jawa: mandi). Di antara hikayat yang sering dikutip ulama dalam menceritakan keistimewaan Ala’ adalah tiga “keajaiban” beruntun yang terjadi di tengah-tengah pengejaran pasukan musuh.

Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah (vol. 6, hal. 171-172), menukil keterangan dari Anas bin Malik r.a. yang mengisahkan bahwa di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab r.a., Al-‘Ala` pernah ditugaskan Umar untuk memimpin sebuah pasukan perang.

Di tengah perjalanan di mana musuh telah jauh di depan, pasukan yang dipimpin Al-‘Ala` kehausan dan nyaris kehabisan persediaan air. Tak lama setelahnya matahari mulai condong ke arah barat. Tanda waktu shalat sudah masuk. Al-‘Ala` pun mengimami pasukannya melakukan shalat Jumat. Selesai shalat ia mengangkat tangannya dan berdoa.

“Waktu itu kami tak melihat apapun di langit. Tapi, demi Allah, Al-‘Ala` belum lagi menurunkan tangannya hingga Allah Swt. mengirimkan angin dan memunculkan awan yang menurunkan hujan lebat sampai lorong-lorong kecil dan cekungan-cekungan tanah bekas sungai yang kering menjadi penuh dengan air.” Kata Anas.

Pasukan Al-‘Ala` segera mengambil minum untuk mereka sendiri dan untuk hewan tunggangan mereka.

Selepas itu, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya mengejar musuh hingga akhirnya mereka terhenti di tepi teluk dan musuh ternyata sudah berada di pulau seberang. Di tepi teluk tersebut, Al-‘Ala` berdoa:

يَا عَلِيُّ، يَا عَظِيْمُ، يَا حَلِيْمُ، يَا كَرِيْمُ

“Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Mahabesar, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Mulia.”

Kemudian Al-‘Ala` berkata pada pasukannya: “Sebrangilah teluk ini dengan nama Allah.”

Anas menceritakan bahwa saat pasukannya menyebrang, air laut hanya membasahi kaki hewan tunggangan mereka. Selanjutnya, dengan muslihat yang dimiliki Al-‘Ala` dan pasukannya, mereka mampu mengalahkan musuh.

Tapi, setelah mereka kembali ke seberang dengan cara yang sama dengan penyeberangan pertama, belum jauh langkah mereka dari teluk, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kematian Al-‘Ala`.

Dengan berat hati akhirnya mereka memandikan, mengkafani, dan memakamkan Al-‘Ala`. Pemimpin yang sakti itu. Namun, usai rampungnya pemakaman, tiba-tiba seorang laki-laki mengabarkan kalau tanah yang mereka pijak tak pernah menerima bangkai manusia. Ia selalu memuntahkannya.

“Pindahkanlah ia barang satu-dua mil dari sini,” kata laki-laki tersebut.

“Kami berpikir, membiarkannya dimakan hewan buas bukanlah ganjaran yang baik untuk Al-‘Ala`.” Kata Anas.

Akhirnya mereka menggali lagi makam Al-‘Ala` dan bermaksud untuk memindahkannya. Anehnya, sesampainya di dasar liang kubur, jasad Al-‘Ala` tidak ditemukan. Yang ada hanya cahaya terang yang menyilaukan mata. Para pasukan pun mengembalikan kuburan itu seperti sebelumnya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan seraya bergumam, Allah Swt. telah mengambil dan melindungi jasad Al-‘Ala`.

Masih di kitab yang sama, Ibn Katsir menuturkan riwayat lain dari Sahm bin Minjab yang menjelaskan doa yang dibaca Al-‘Ala` pada kejadian di atas.

Saat meminta hujan, Al-‘Ala` berdoa,

يا عَلِيمُ، يَا حَلِيمُ، يَا عَلِيُّ، يَا عَظِيمُ، إنَّا عَبِيدُكَ وَفِي سَبِيلِكَ نُقَاتِلُ عَدُوَّكَ، اسْقِنَا غَيْثًا نَشْرَبُ مِنْهُ وَنَتَوَضَّأُ.

“Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Mahabesar. Sungguh kami adalah hamba-hamba-Mu yang sedang berperang di jalan-Mu. Siramilah kami, agar bisa minum dan wudu.”

Saat hendak menyeberang, ia berdoa,

يا عَلِيمُ، يَا حَلِيمُ، يَا عَلِيُّ، يَا عَظِيمُ، اجْعَلْ لَنَا سَبِيلًا إِلَى عدوِّك.

Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Mahabesar. Berilah kami jalan menuju musuh-Mu.”

Saat menghadapi detik-detik kematiannya, ia berdoa,

يا عَلِيمُ، يَا حَلِيمُ، يَا عَلِيُّ، يَا عَظِيمُ، أَخْفِ جُثَّتِي وَلَا تُطْلِعْ عَلَى عَوْرَتِي أَحَدًا.

Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Mahabesar. Samarkanlah tubuhku. Dan, jangan perlihatkan auratku pada orang lain.”

Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah karamah Al-‘Ala` yang dicatat para sejarawan. Namun, kisah di atas sudah cukup untuk membuktikan pada kita betapa seorang hamba bisa begitu dekat dengan Allah Swt. hingga doanya selalu diterima di sisi-Nya.

Wallahu  A’lam.