Oleh: Ahmad Muntaha AM
KA Mutiara Selatan, Surabaya-Kota Banjar Ciamis
22 September 2018

Agenda lima tahunan Pilpres (Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden) dan Pileg (Pemilihan Legislatif), agenda istimewa bagi perjalanan bangsa Indonesia segera dimulai. Semua calon berlomba untuk menjadi yang terbaik. Masyarakat pun banyak yang sudah tampak dan menampakkan kecenderungan pilihan politiknya, meski sebagian juga masih wait and see, melihat visi-misi masing-masing calon.

Di group-group WA dan media sosial lainnya, aksi sindir dan serang-menyerang sudah mulai terjadi, dari yang halus, setengah halus, hingga kasar tak beraturan. Sungguh sangat disayangkan.

Mungkin, ada baiknya dalam kondisi seperti itu, kita tetap menjaga akal sehat dan akhlak kita secara optimal, semampunya, di tengah godaan untuk membalas pancingan cibiran dan serangan partisan dari manapun. Dalam hal ini sering saya lakukan, puasa ngebleng.

Ya, puasa ngebleng. Tapi bukan berarti puasa sehari semalam tanpa berbuka. Lebih dari itu. Puasa ngebleng yang saya maksud adalah tidak bicara dan komentar tentang politik praktis sama sekali selama satu minggu, dua minggu atau semampunya. Intinya adalah belajar menahan diri.

“Lalu bagaimana, saya kan Tim Sukses ini, simpatisan itu, dan wajib berjuang untuk memenangkannya?”

Kadang ada yang bertanya demikian. Bagi saya, itu merupakan suatu konsekuensi pilihan masing-masing orang yang harus dilakukan secara bertanggung jawab lahir dan batin.

Dalam konteks seperti ini, ada baiknya kita menyimak ujaran-ujaran hikmah dari para bijak bestari. Di antaranya Syekh Al Imam Al Junaid Al Baghdadi, salah satu panutan utama Nahdliyyin dan NU dalam bidang tasawuf dan akhlak.

Suatu kali beliau pernah berujar tentang karakter sufi sejati, yang terjemah bebasnya seperti ini:

“Sufi itu seperti bumi, ke sana dibuang segala sampah dan kotoran, namun tiada keluar darinya kecuali kebaikan dan kemanfaatan.

Sufi itu seperti bumi, menjadi pijakan orang baik maupun orang yang belum baik.

Sufi itu seperti awan mendung, meneduhi dan melindungi apa saja dan siapa saja.

Sufi itu seperti hujan, membawa kesegaran dan keberkahan kepada apa saja dan siapa saja.

Begitu dahsyat kalimat hikmah beliau ini. Semoga menginspirasi di musim Pilpres dan Pileg ini, untuk berupaya semakin dewasa dan mendewasakan diri. Amin.


Sumber:
As Suhrawardi, ‘Awarif Al Ma’arif pada Ihya’ Ulum Ad Din, (Semarang: Toha Putra, tth), I, 323:

وَقَالَ الجنيد: الصوفي كالأرض يطرح عَلَيْهَا كُل قبيح ولا يخرج منها إلا كُل مليح. وَقَالَ أَيْضًا: إنه كالأرض يطؤها البر والفاجر وكالسحاب يظل كُل شَيْء وكالقطر يسقى كُل شَيْء.