Dahulukan Etika Sebelum Ilmu (Kisah Tragis Santri Terbaik)

Oleh : Moh Nasirul Haq (Santri Rubat Syafi’ie Mukalla Yaman).

Etika merupakan sebuah gambaran dari sebuah perkataan, pekerjaan, dan perbuatan yang baik. Setiap orang yang ber-etika akan menjadi orang terpuji, Etika itu sendiri penerapannya secara kontinyu kepada siapapun dan kapanpun khususnya kepada orang orang yang lebih mulia dari kita.

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang kisah tragis dari seorang yang sangat pandai namun ia tidak memiliki Etika kepada gurunya sendiri. Kisah ini saya dapatkan dari guru saya Syidi Syeikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah beliau dari gurunya Al Allamah Al Habib Abdullah bin Shodiq Al Habsyi, beliau dari gurunya Al Allamah Al Habib Abdullah bin Umar As Syatiri sekaligus beliau tokoh yang dimaksud dalam cerita ini.

Dikisahkan di Tarim Yaman terdapat suatu pesantren yang bernama “Rubath Tarim”, pesantren ini telah melahirkan puluhan ribu Ulama’ yang tersebar diseluruh dunia. disana para santri diajarkan berbagai macam ilmu, khususnya spesifikasi Ilmu Fiqh sebagai keunggulannya.

Di pesantren itu pula ada seorang santri anggap saja namanya “Fulan”, si Fulan ini merupakan seorang santri yang sangat cerdas, kuat hafalannya, tangkas dan rajin hingga dikatakan bahwa ia menjadi santri yang sudah mencapai derajat Mufti saking pintarnya. ia juga hafal semua mas’alah fiqhiyah yang terdapat dalam kitab “Tuhtatul Muhtaj” sebuah kitab yang tebalnya 13 tiga belas jilid.

Kesehariannya di pesantren, si Fulan ini disukai oleh teman temannya sebab ia dibutuhkan oleh rekannya untuk menjelaskan pelajaran yang belum difahami serta mengajar kitab kitab lainnya. 13 tahun menjadi santri Rubath Tarim tentu saja hampir dipastikan kapasitasnya ia termasuk Ulama’ besar. Namanya pun tersohor hingga keluar pesantren bahwa ia termasuk calon Ulama besar yang akan muncul berikutnya.

Hingga akhirnya Syetan mengelabuhi si fulan, iapun merasa orang yang paling Alim, bahkan ia merasa kualitas dirinya sejajar dengan kealiman guru besarnya. Tidak cukup sampai disitu, kesombongan itu berlanjut hingga ia berani memanggil gurunya dengan namanya saja; “Ya Abdullah / Duhai Abdullah”!!!. Dimata para Ahli ilmu hal ini sungguh ini tindakan yang sangat sangat tercela dan kesombongan yang nyata.

Melihat kesombongan si fulan, Al Habib Abdullah As Syatiri sabar dan memilih diam saja. Syidi Syeikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah mengatakan; “Diamnya seorang guru saat muridnya tidak sopan pada gurunya tetap akan mendapatkan Adzab dari Allah s.w.t.”

Kesombongan itupun berlanjut, si fulan pada suatu hari akan keluar dari Rubath Tarim untuk menuju kota Mukalla untuk berdakwah. Iapun keluar dari pesantren begitu saja tanpa izin kepada Al Habib Abdullah As Syatiri, hingga pada saat “Madras Ribath” sebutan untuk pengajian rutinan di rubath tarim, Habib Abdullah menanyakan perihal keberadaan si fulan yang biasanya duduk di depan namun tidak Nampak kelihatan;

“kemanakah si fulan???”, sebagian murid yang mengetahui menjawab “si fulan sedang berdakwah ke kota Mukalla”, habib berkata “apakah dia izin kepadaku??”, sontak murid yang lain diam saja. Dan Habib Abdullah kemudian berkata “baiklah, kalau begitu biarkan si fulan pergi akan tetapi ilmunya tetap disini!!!.”

Di sisi lain di kota Mukalla Yaman, para ahli ilmu dan tholib ilim yang mendengar bahwa si fulan santri senior rubath tarim akan mengisi ceramah di Masjid Bazar’ah merekapun berbondong-bondong datang, mereka pun mempersilahkan si fulan untuk memberikan ceramahnya.

Si fulan naik kemimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan basmalah, hamdalah, sholawat kepada nabi amma ba’du. Kemudian ia membaca sebuah ayat dan ingin menjelaskan ayat ini. namun ternyata dia terdiam!!!, kebingungan. Iapun terus berusaha mengingat ilmunya namun tak bisa, ia menoleh ke kanan dan kiri tetap saja begitu, hingga hampir sepuluhh menit dia terdiam dihadapan jama’ah di hadapannya. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika!!!.

Jama’ah yang melihatnya kaget melihat hal itu, salah satu ahli ilmu di kota Mukalla mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si fulan. Ia pun bertanya pada si fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia (si fulan) minta maaf pada sang maha guru.

Memang sudah dikuasai oleh syetan, iapun enggan untuk tawadlu’ dan minta maaf pada sang guru.
Hidupnya pun bertambah tragis, tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya. Hingga ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran kota Mukalla dan sehari hari menjadi penjual Arang di dekat kuburan Ya’qub.
Hingga akhir hayatnya ia hidup dalam keadaan miskin bahkan untuk sebuah kafan pun ia tak punya dan di beri sedekah oleh tetangganya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Dari kisah ini mari kita semua perbaiki etika kita kepada guru kita dan kepada siapapun disekitar kita meskipun kita sudah memiliki ilmu yang banyak. Begitu pula mari kita saling Tawadlu’, merendahkan diri dan menjaga dari kesombongan yang bisa menghancurkan diri kita sendiri.

Semoga bermanfaat.
Mukalla. 15-juli-2017

By | 2017-07-15T21:10:41+00:00 July 15th, 2017|Categories: Opini, Tausiyah|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment